CODE VEIN II
Bandai Namco Studios
Bandai Namco
30 Januari 2025
PS5, Xbox Series, PC
Action RPG
Dewasa
Blu-ray, Digital
Rp 929.000 (Standard)
Rp 1.279.000 (Deluxe)
Rp 1.399.000 (Ultimate)
Kesuksesan besar Elden Ring membuat genre soulslike memang semakin menjamur. Dari studio indie hingga AAA, semua seakan berlomba menghadirkan formula serupa dengan ciri khas masing-masing. Namun, harus diakui, belum ada yang benar-benar mampu menandingi Elden Ring dari sisi open world maupun kedalaman kontennya.
Di tengah tren tersebut, Bandai Namco mengambil langkah berani dengan menghadirkan pendekatan open world pada Code Vein II. Formulasi ini terasa cukup solid dan memberikan nuansa baru dibanding seri pertamanya. Anda akan merasakan kebebasan menjelajah area yang lebih luas, dengan struktur dunia yang berusaha menyeimbangkan eksplorasi dan tantangan khas soulslike.
Apakah CODE VEIN II mampu menandingi game Soulslike berkonsep Open-world seperti ELDEN RING?
Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Story
Code Vein II membuka kisahnya dengan atmosfer dunia yang berada di ujung kehancuran, pasca fenomena misterius bernama The Resurgence. Peristiwa ini lahir dari invasi Luna Rapacis—entitas monster yang muncul dari tragedi besar dan meninggalkan kehancuran bagi seluruh makhluk hidup.
Berbeda dengan seri pertama, di mana Anda berperan sebagai Revenant, sebuah makhluk sejenis vampir, kali ini perspektif baru ditawarkan : Anda menjadi seorang Revenant Hunter. Sosok ini ditugaskan melindungi manusia, namun ironisnya justru dianggap ancaman oleh komunitas Revenant yang mendambakan kedamaian. Ketegangan antara dua pihak ini menjadi fondasi konflik yang lebih kompleks.
Perjalanan protagonis semakin dramatis ketika ia bangkit kembali dari kematian berkat separuh jantung yang diberikan oleh Lou Magmell, seorang Revenant muda dengan kemampuan unik: menembus dimensi waktu. Ikatan jiwa yang terbentuk menjadikan hubungan keduanya lebih dari sekadar “hero dan companion.” Lou bukan hanya pendamping, tetapi juga katalis yang aktif membantu, menghadirkan dinamika karakter yang lebih hidup dan emosional.
Misi Anda pun berkembang, bukan sekadar bertarung melawan ancaman, melainkan juga melakukan perjalanan ke masa lampau untuk memperkuat potensi Lou yang masih rapuh. Dari sinilah narasi Code Vein II terasa lebih ambisius—menggabungkan tema pengorbanan, kepercayaan, dan misteri sejarah yang belum terungkap.
Pertanyaan besar pun menggantung: mampukah Anda dan Lou menyelamatkan dunia yang berada di ambang kehancuran? Apa sebenarnya rahasia di balik The Resurgence yang terjadi di masa lampau?
Temukan jawabannya dengan memainkan CODE VEIN II!
Gameplay
Code Vein II menawarkan kembali sajian cerita yang menyentuh, basic combat dan companion yang lebih baik dari game sebelumnya, serta konten dan dunia open world yang menantang untuk Anda eksplorasi. Dan tentu saja, sajian fan service yang tentunya menambah nilai jual game ini menjadi semakin menarik.
Walaupun menyandang angka romawi “II” pada judulnya, Code Vein II tidak sekadar melanjutkan kisah lama. Game ini menghadirkan narasi serta jajaran karakter yang sepenuhnya baru, sehingga Anda tidak perlu khawatir akan kehilangan konteks meskipun langsung baru memulai memainkan series gamenya dari rilisan yang terbaru ini.
Meski begitu, eksekusi ini belum sepenuhnya sempurna. Dari sisi teknis, masih ada sejumlah kekurangan yang terasa mengganggu, mulai dari performa yang tidak konsisten hingga detail lingkungan yang kadang kurang maksimal. Variasi musuh pun belum seberagam yang diharapkan, sehingga beberapa area terasa repetitif.
Walau demikian, keberanian Bandai Namco untuk mengadopsi konsep open world patut diapresiasi. Ada fondasi yang menjanjikan di sini, dan jika dieksekusi lebih matang, Code Vein II berpotensi menjadi salah satu seri soulslike yang mampu berdiri sejajar dengan nama-nama besar di genre ini.
Berikut kami bahas aspek gameplay selengkapnya:
Combat System
Fondasi sistem pertarungan dalam Code Vein II masih mempertahankan karakteristik utama dari seri sebelumnya, namun kini hadir dengan sejumlah penyesuaian dan perombakan yang signifikan. Beberapa istilah lama mengalami transformasi: Gifts yang sebelumnya merujuk pada skill kini berganti nama menjadi Formae, sementara serangan Drain dari Blood Veil dialihkan ke mekanisme baru bernama Jail yang berfungsi sebagai bagian dari sistem equipment, dengan bentuk dan animasi yang lebih variatif serta menghadirkan kesan visual yang keren.
Karakter Anda dibekali dengan empat slot untuk skill utama, dengan pilihan yang lebih beragam termasuk variasi senjata. Blood Code tetap menjadi elemen inti yang berperan layaknya sistem kelas, memberikan pengaruh langsung terhadap statistik utama sekaligus menghadirkan trait khusus. Namun, status yang terkandung pada masing-masing Blood Code tidak bisa diatur secara bebas, sehingga Anda harus benar-benar bereksperimen untuk menemukan Blood Code yang paling sesuai dengan gaya bermain Anda.
Perubahan paling menonjol terlihat pada sistem Partner, yang kini memiliki peran yang lebih berguna. Kehadiran mereka tidak hanya sekadar mendampingi, tetapi juga memberikan bonus trait tambahan saat di-summoned ke medan pertempuran. Bahkan, terdapat opsi untuk menggabungkan kekuatan dengan partner dalam satu tubuh, menghasilkan sinergi dan buff yang memberikan keuntungan pertarungan bagi Anda. Partner bukan sekadar pendamping, melainkan petarung dengan kapabilitas kemampuan yang setara dengan karakter Anda, sehingga keberadaan mereka berpengaruh langsung terhadap tingkat kesulitan permainan.
Meski demikian, Code Vein II tidak sepenuhnya memungkinkan gaya bermain “solo.” Pada momen-momen tertentu dalam story, Anda diwajibkan memilih partner. Selain itu, karakter utama akan selalu bangkit kembali setelah gugur, terlepas dari siapa partner yang dipilih. Mekanisme ini dilengkapi indikator cooldown pada ikon partner, memungkinkan beberapa kali kebangkitan dalam satu pertempuran. Namun, HP yang dipulihkan akan semakin berkurang jika kebangkitan terjadi terlalu sering, sehingga tetap ada risiko yang menuntut strategi ekstra.
Di sisi lain, sistem tetap dipertahankan tanpa ada pembatasan. Ichor berfungsi layaknya energi untuk mengeksekusi skill, dan dapat diisi kembali melalui serangan Drain ketika menemukan celah aman. Serangan Drain juga berperan sebagai lethal blow saat musuh berada dalam kondisi stagger, memungkinkan Anda memberikan damage maksimal sekaligus mengisi ulang Ichor. Mekanisme ini menjaga ritme pertarungan tetap intens dan memberi insentif untuk memanfaatkan timing dengan tepat.
Dari seluruh perubahan, aspek yang paling menonjol justru terletak pada sensasi eksekusi serangan. Animasi karakter dan efek serangan kini terasa lebih berbobot, dipadukan dengan kualitas audio yang memberi impresi nyata bahwa setiap tebasan memiliki kekuatan. Pergerakan yang lebih halus turut meningkatkan responsivitas kontrol, membuat interaksi antara input dan aksi di layar terasa lebih presisi.
Walaupun sistem Partner yang baru dapat sedikit menurunkan tingkat kesulitan, secara keseluruhan sistem pertarungan Code Vein II berhasil mencapai standar yang lebih tinggi dibandingkan pendahulunya, menghadirkan pengalaman yang lebih solid dan memuaskan.
Open World
Pengembangan Code Vein II yang membutuhkan waktu lebih dari lima tahun sejak game pertamanya dirilis, salah satu alasannya adalah perubahan fundamental yang diusung. Tidak hanya sekadar menanggapi masukan dari seri sebelumnya dan merombak sejumlah elemen inti, kali ini permainan dirancang dalam format open-world.
Pada tahap awal, pendekatan ini sempat menimbulkan keraguan, namun setelah dicoba secara langsung, skala eksplorasi yang ditawarkan terbukti masif dan menghadirkan peta dengan cakupan yang luas. Langkah ini terasa impresif, mengingat genre soulslike masih jarang mengadopsi konsep dunia terbuka. Dengan demikian, Code Vein II menempatkan dirinya sebagai salah satu eksperimen berani yang memperluas cakupan pengalaman dalam genre ini.
Implementasi open world-nya pun cukup terasa solid. Pada awal permainan, ruang eksplorasi memang masih terbatas di wilayah Magmell Island. Namun setelah Anda berhasil mencapai daratan utama, permainan terbuka sepenuhnya dan memberikan kebebasan untuk menjelajahi area sesuai progres cerita.
Kebebasan ini tidak sekadar pelengkap karena setiap wilayah dipenuhi dengan konten tambahan berupa misi sampingan maupun dungeon opsional yang memperkaya variasi pengalaman. Setiap penjelajahan terasa memberikan imbalan yang memuaskan, baik berupa rahasia tersembunyi maupun tantangan baru. Aspek imersif juga diperkuat melalui sistem cuaca dinamis, yang membuat atmosfer dunia terasa lebih hidup dan mendukung pengalaman eksplorasi secara keseluruhan.
Untuk mendukung mobilitas di area yang luas, Code Vein II membekali karakter Anda dengan sepeda motor. Desain peta bahkan menyesuaikan dengan keberadaan kendaraan ini, menghadirkan jalur khusus yang dapat dilalui untuk mempercepat perjalanan.
Bagi Anda yang ingin berpindah secara instan ke lokasi yang jauh, tersedia sistem fast travel melalui Mistle—checkpoint yang berfungsi mirip bonfire. Di titik ini, Anda tidak hanya dapat melakukan fast travel, tetapi juga menaikkan level karakter, menyesuaikan senjata, meningkatkan kemampuan pemulihan (Regeneration), mengganti partner, dan mengakses berbagai opsi lainnya.
Selain itu, untuk membuka tampilan peta yang awalnya disamarkan, Anda perlu menaklukkan monster bernama Map Jammer. Musuh ini relatif lemah dan ditandai dengan warna ungu pada world map, sehingga keberadaannya mudah dikenali.
Meski sistem open-world ini terlihat komprehensif, konsekuensi yang cukup terasa adalah minimnya variasi musuh. Anda akan sering berhadapan dengan tipe lawan yang sama, dengan hanya sedikit perbedaan di sana-sini. Hal ini berlaku tidak hanya pada musuh biasa, tetapi juga pada boss, di mana sebagian besar terasa seperti hasil daur ulang kecuali boss yang memang terkait langsung dengan cerita utama.
Keterbatasan variasi juga tampak pada desain dunia dan area yang cenderung seragam. Namun, kekurangan ini sedikit tertutupi oleh aspek eksplorasi yang tetap menarik, terutama karena tema time travel memengaruhi kondisi dunia secara signifikan. Sensasinya seolah-olah Anda menjelajahi dua peta open-world berbeda, meski sebenarnya masih berbasis pada dunia yang sama dengan latar waktu berganti. Selain itu, desain level kali ini jelas mendapat perhatian lebih, sehingga pengalaman menjelajah tidak menimbulkan frustrasi atau kebosanan—sebuah peningkatan yang lahir dari evaluasi atas kasus Cathedral of the Sacred Blood di seri sebelumnya.
Transformasi Code Vein II menjadi game open-world juga membawa perubahan besar pada sistem progression. Kini Anda memiliki kebebasan penuh untuk menentukan arah permainan: melanjutkan jalannya cerita utama, menekuni misi sampingan yang berfokus pada karakter tertentu, atau sekadar menjelajahi dunia untuk melakukan grinding dan menemukan rahasia tersembunyi. Bahkan misi utama tidak lagi disajikan secara linear, karena beberapa di antaranya dapat dijalani sesuai ritme Anda sendiri, termasuk keputusan penting yang menentukan apakah masa lalu akan diubah atau dibiarkan tetap terjadi.
Features Upgrade
Area pusat aktivitas dalam Code Vein II adalah MagMell, yang berfungsi sebagai hub utama. Di sini tersedia beragam fasilitas penting untuk memperkuat karakter Anda, berlatih melalui mode training, serta berinteraksi dengan rekan-rekan yang berperan dalam mendorong jalannya misi utama maupun sampingan. Secara fungsi, hub ini masih mempertahankan konsep dari seri sebelumnya, namun kini tampil lebih luas dan terasa lebih hidup. Fitur hot spring juga tetap hadir, bahkan ditambahkan di area luar hub, yang kadang memberikan resep baru untuk kebutuhan item synthesis.
Dari sisi pengembangan karakter, progression tidak hanya bergantung pada peningkatan level. Ada sejumlah elemen yang perlu diperhatikan: pemilihan Blood Code, senjata, seleksi skill Formae, sistem Jail, hingga tambahan Booster sebagai mekanisme baru untuk meningkatkan statistik. Eksplorasi dunia juga terasa lebih rewarding berkat keberadaan senjata dan skill Formae yang tersebar di lokasi opsional.
Terlepas dari perdebatan mengenai kualitas seri ini, sulit untuk menyangkal bahwa aspek kustomisasi karakter merupakan salah satu daya tarik utama Code Vein II. Fitur ini kembali hadir dengan cakupan yang lebih luas, memungkinkan Anda menyesuaikan penampilan karakter hingga ke detail yang sebelumnya tidak terbayangkan. Namun, perubahan gaya visual pada model 3D membuat proses replikasi karakter lama menjadi lebih menantang. Beberapa opsi bahkan masih terbatas, seperti struktur wajah yang tidak fleksibel dan pilihan bentuk mulut yang hanya tersedia dalam versi default.
Keterbatasan juga terlihat pada proporsi tubuh. Model pria maupun wanita dirancang dengan standar tertentu, sehingga sulit menciptakan karakter dengan wujud yang lebih tua, lebih muda, atau dengan bentuk tubuh yang berbeda secara signifikan. Ditambah lagi, absennya dukungan online co-op mungkin membuat sebagian orang kurang terdorong untuk memanfaatkan fitur kustomisasi secara maksimal.
Menariknya, sorotan justru bergeser ke fitur pendamping yaitu Photo Mode, yang tampil jauh melampaui ekspektasi. Ragam opsinya sangat kaya, memungkinkan Anda menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan bereksperimen. Mode ini hadir dalam dua format: Stationary, yang menghentikan aktivitas lingkungan sekitar, dan Real-Time, yang tetap berjalan normal dengan opsi pengaturan frame. Dengan kombinasi ini, Anda tidak hanya dapat mengambil foto, tetapi juga merekam video dari berbagai sudut kamera sambil mengubah ekspresi maupun emote karakter.
Presentation
Visual
Begitu mendengar bahwa Code Vein II akan menggunakan format open world dan Unreal Engine 5 sebagai graphic engine, muncul keraguan mengenai optimisasi teknisnya. Sayangnya, kekhawatiran tersebut terbukti benar. Pada platform PlayStation 5 Pro, performa game ini berada di bawah standar, meskipun secara keseluruhan masih dapat ditoleransi. Salah satu masalah paling mencolok adalah perbedaan frame rate yang drastis antara area luar ruangan dan dalam ruangan. Walaupun tersedia opsi untuk memprioritaskan kelancaran aksi atau kualitas visual, kenyataannya kedua mode tersebut tidak menunjukkan perbedaan berarti.
Kelemahan teknis yang muncul cukup beragam: kualitas tekstur rendah dengan efek pop-in bahkan saat cutscene berlangsung, penggunaan blur yang berlebihan, jarak pandang (draw distance) yang buruk sehingga musuh dapat muncul tiba-tiba dari jarak dekat, serta pencahayaan yang tidak konsisten. Semua ini membuat pengalaman visual terasa kurang stabil dan menurunkan impresi grafis yang seharusnya menjadi salah satu daya tarik utama.

Audio
Gangguan juga terjadi pada aspek audio. Saat menghadapi monster berukuran besar, efek suara yang seharusnya menjadi penanda khas justru tidak muncul sama sekali. Kondisi ini membuat pola serangan lebih sulit diprediksi, sekaligus mengurangi atmosfer pertarungan yang seharusnya intens.
Kombinasi dari berbagai kendala ini menjadikan aspek teknis sebagai salah satu titik lemah terbesar dalam pengalaman bermain Code Vein II. Walaupun ambisi untuk menghadirkan dunia terbuka dengan engine modern patut diapresiasi, eksekusi teknis yang belum matang membuat kualitas visual dan audio tidak mampu sepenuhnya mendukung ambisi besar yang diusung.
Value
Code Vein II dijual dengan harga premium yang setara dengan standar game AAA saat ini, di harga Rp 929.000 untuk edisi Standard, dengan opsi edisi Deluxe di harga Rp 1.279.000 dan edisi Ultimate di harga Rp 1.399.000. Terakhir ada juga Collector’s Edition yang harganya lebih dari Rp 2.800.000.
Jika dibandingkan dengan konten yang ditawarkan, game ini memang menghadirkan cakupan yang cukup luas: dunia terbuka masif dengan sistem eksplorasi non-linear, mekanisme pertarungan yang diperbarui melalui Formae, Jail, dan Burden, serta fitur kustomisasi karakter yang lebih mendalam. Ditambah lagi, keberadaan Photo Mode yang kaya opsi menjadikan pengalaman bermain terasa lebih personal.
Namun, kelemahan teknis seperti performa yang tidak stabil, variasi musuh yang terbatas, dan kualitas visual yang belum maksimal membuat value yang ditawarkan terasa kurang sepadan dengan harga premium tersebut. Jika dibandingkan dengan soulslike lain seperti Elden Ring yang menawarkan konten lebih matang dengan harga sama, Code Vein II masih tertinggal dari sisi polish dan konsistensi. Secara keseluruhan, Code Vein II menghadirkan konten yang solid, tetapi belum mampu melampaui ekspektasi harga yang dipatok.
Conclusions
Code Vein II hadir sebagai sebuah sekuel ambisius yang berusaha memperluas cakupan pengalaman soulslike melalui penerapan dunia terbuka dan sistem pertarungan yang lebih kompleks. Mekanisme baru seperti Formae, Jail, Burden, dan sistem Partner memberikan lapisan strategi tambahan yang membuat pertarungan terasa lebih variatif, meski terkadang menurunkan tingkat kesulitan.
Secara keseluruhan, Code Vein II adalah sebuah langkah berani yang memperlihatkan potensi besar untuk berkembang menjadi seri soulslike yang unik. Namun, kelemahan teknis dan keterbatasan variasi konten membuatnya belum mampu berdiri sejajar dengan nama-nama besar di genre ini. Bagi Anda yang mencari pengalaman baru dengan sentuhan narasi emosional dan sistem pertarungan yang lebih kaya, Code Vein II tetap layak dicoba, meski dengan ekspektasi yang lebih realistis terhadap kualitas teknisnya.
+ Narasi cerita yang emosional
+ Mengusung konsep dunia terbuka
+ Sistem pertarungan lebih variatif dengan mekanisme baru
+ Partner system yang lebih strategis
+ Eksplorasi yang memuaskan
+ Photo Mode kaya fitur
+ Kustomisasi karakter yang mendalam
+ Atmosfer dunia lebih hidup
+ Animasi serangan lebih berbobot
+ Dungeon opsional tambah replayability
+ Fan service yang sangat mantap
- Optimisasi teknis buruk
- Kualitas tekstur rendah
- Pencahayaan tidak konsisten
- Gangguan audio, terutama pada monster besar
- Minimnya variasi musuh
- Desain area cenderung seragam
- Keterbatasan kustomisasi tubuh
- Absennya Online Coop










![[Review] ROMEO IS A DEAD MAN](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Romeo-is-a-Dead-Man-Banner-115x115.jpg)
![[Review] NIOH 3](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Nioh-3-Banner-115x115.jpg)
![[Review] Rune Factory: Guardians of Azuma (PS5)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/05/Rune-Factory-Guardians-of-Azuma-Banner-115x115.jpg)
![[Review] ROMEO IS A DEAD MAN](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Romeo-is-a-Dead-Man-Banner-200x250.jpg)
![[Review] NIOH 3](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Nioh-3-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Rune Factory: Guardians of Azuma (PS5)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/05/Rune-Factory-Guardians-of-Azuma-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Yakuza Kiwami 3 & Dark Ties](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Yakuza-Kiwami-3-Banner-200x250.jpg)
![[News] Ragnarok Origin Classic [Hearth Test] Akan Segera Dimulai!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Ragnarok-Origin-Hearth-Test-200x250.jpg)
![[Review] RIDE 6](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Ride-6-Banner-200x250.jpg)
![[Event] Liputan SEGA Atlus Festival di Jakarta](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/SEGA-ATLUS-FESTIVAL-2026-Banner-200x250.jpg)
![[News] Yu-Gi-Oh! MASTER DUEL Rayakan 4 Tahun Perilisan!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Yugioh-Master-Duel-4th-Anniversary-200x250.jpg)
![[Recap] Nintendo Direct: Partner Showcase – Februari 2026](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Nintendo-Direct-Februari-2026-200x250.jpg)
![[Review] CODE VEIN II](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Code-Vein-II-Banner-200x250.jpg)
![[Review] ROMEO IS A DEAD MAN](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Romeo-is-a-Dead-Man-Banner-360x240.jpg)
![[News] Bocoran Gameplay Assassin’s Creed Mirage Mengemuka!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2023/05/Assassins-Creed-Mirage-official-screenshots-1-scaled-1-360x240.jpg)
![[Recap] Nintendo Direct: Partner Showcase – Februari 2026](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Nintendo-Direct-Februari-2026-360x240.jpg)
![[News] Ragnarok Origin Classic [Hearth Test] Akan Segera Dimulai!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Ragnarok-Origin-Hearth-Test-360x240.jpg)