METAL GEAR SOLID Δ: SNAKE EATER
Muhammad Irfan Zidni
Konami
Konami
28 Agustus 2025
PS5, Xbox Series, PC
Action-stealth
Dewasa
Blu-ray, Digital
81 GB
Rp 904.000 (Standard)
Rp 1.066.000 (Deluxe)
Pada tanggal 28 Agustus 2025, Konami resmi merilis Metal Gear Solid Delta: Snake Eater, sebuah remake dari mahakarya stealth-action tahun 2004, Metal Gear Solid 3: Snake Eater.
Dibangun dengan Unreal Engine 5 dan dikembangkan oleh Konami Digital Entertainment bersama studio Virtuos, Delta bukan sekadar remaster visual, melainkan rekonstruksi penuh yang berusaha mempertahankan jiwa asli game sambil menyelaraskannya dengan standar modern. Tanpa kehadiran Hideo Kojima sebagai sutradara, pertanyaan besar pun muncul: bisakah Delta menyampaikan kembali kompleksitas naratif dan atmosfer yang menjadikan Snake Eater sebagai salah satu game terbaik sepanjang masa?
Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Story
Cerita dimulai pada tahun 1964, di tengah ketegangan yang keberlangsungan saat terjadinya Perang Dingin antara pihak Amerika dan Uni Soviet. Anda akan mengendalikan Naked Snake, seorang agen FOX yang ditugaskan untuk menyelamatkan ilmuwan Soviet bernama Sokolov.
Di awal cerita, saat Snake sedang melaksanakan sebuah misi, yang dikenal sebagai Virtuous Mission, ia menemukan kenyataan bahwa mentornya, The Boss, berkhianat dan memihak pada musuh. Snake dikalahkan oleh The Boss dan gagal menyelematkan Sokolov hingga ia ditangkap oleh Kolonel Volgin, pemimpin GRU yang eksentrik dan kejam.

Satu minggu kemudian, Snake kembali ke wilayah Soviet dalam misi baru: Operation Snake Eater. Tujuannya bukan hanya menyelamatkan Sokolov, tetapi juga membunuh The Boss—figur yang ia anggap sebagai ibu spiritual sekaligus simbol idealisme militer.
Dari sinilah, Anda akan mulai merasakan sebuah sajian cerita yang penuh dengan intrik nan dramatis. Kisah yang Anda jalani akan mulai menyentuh tema-tema berat: loyalitas, pengkhianatan, dan identitas. Snake harus menghadapi unit elite Cobra, masing-masing dengan kekuatan dan filosofi mereka yang unik, serta menjalin hubungan kompleks dengan EVA, agen ganda yang misterius.
Hingga pertengahan game, kita akan menyaksikan Snake yang mulai meragukan prinsip dan pilihan hidupnya. Apakah membunuh The Boss adalah tindakan patriotik, atau justru pengkhianatan terhadap nilai-nilai yang ia pelajari darinya?
Temukan jawabannya dengan memainkan METAL GEAR SOLID Δ: SNAKE EATER sekarang juga!!

Gameplay
MGS Delta : Snake Eater tetap mempertahankan semua cutscene dan voice acting dari versi originalnya di PS2, sehingga bagi para veteran yang telah berulang kali menamatkan game ini, akan menciptakan pengalaman nostalgia yang bertambah sempurna sekaligus terasa modern dengan adanya peningkatan kualitas visual berkat penggunaan Unreal Engine 5. Pun bagi Anda yang baru pertama kali mencoba series ini, remake ini adalah titik yang tepat untuk Anda memulai, karena jalan cerita dari keseluruhan series Metal Gear secara kronologis memang baru dimulai pada game ke-3 ini.
Berikut kami bahas aspek gameplay selengkapnya:

MGS Delta: Snake Eater bukan hanya permainan sembunyi-sembunyi; ia adalah simfoni mekanik yang menyatu dengan filosofi karakter dan atmosfer dalam dunianya. Setiap sistem gameplay dirancang bukan hanya sekadar untuk memberi Anda sebuah tantangan, tetapi untuk membentuk pengalaman gameplay yang mendalam— ia mengajarkan Anda tentang bertahan hidup, beradaptasi, dan menghadapi konsekuensi dari segala keputusan yang Anda buat.
Versi remake ini tetap mempertahankan esensi stealth klasiknya, namun dengan sentuhan modern yang membuat setiap gerakan terasa lebih presisi dan bermakna. Snake bukan lagi sekadar siluet yang merayap di semak-semak, melainkan sosok yang harus menyatu dengan lingkungan— baik secara visual maupun taktis.
Pergerakan kamera kini dapat dengan bebas Anda kendalikan, jika Anda memilih untuk memainkan game ini pada mode New Style. Hal ini tentu relevan dengan sebagian besar game action modern yang memiliki sudut pandang orang ketiga. Selain itu, mode ini juga membuat permainan terasa lebih mudah sebab Anda dapat membaca medan dengan lebih baik.

Musuh memiliki sistem penglihatan dan pendengaran yang lebih realistis. Mereka akan bereaksi terhadap suara langkah, jejak di tanah, bahkan bau jika Snake terlalu lama berada di rawa. Hal ini tentu akan membuat gameplay terasa lebih realistis, sebab Anda akan dituntut untuk memiliki kesadaran penuh terhadap kondisi lingkungan di sekitar Snake.
Namun, tidak ada satu strategi yang selalu berhasil. Game ini sangat memerlukan kreativitas yang tinggi untuk dapat menyelesaikan setiap segmen misinya, yang bahkan beberapa strategi tidak akan pernah terlintas di pikiran Anda bahwa cara-cara tersebut akan berhasil.

Sebagai contoh, Anda dapat menggunakan majalah dewasa yang Anda temukan untuk mengalihkan perhatian musuh. Atau, Anda dapat menggunakan kostum buaya agar dapat menakuti anjing-anjing penjaga. Untungnya, game ini memberikan beberapa tips yang cukup berguna ketika Anda merasa kesulitan untuk menyelesaikan misi atau menghadapi boss (itupun jika Anda tidak malas untuk membacanya).

Salah satu fitur paling ikonik dari Snake Eater adalah bagaimana ia menerapkan sistem camo (kamuflase) serealistis mungkin, dan Delta menyempurnakannya tanpa menghilangkan esensinya. Anda dapat mengganti pakaian dan face paint secara dinamis, yang dapat menyesuaikan dengan tekstur dan warna lingkungan. Setiap camo memiliki nilai camouflage index yang akan menentukan seberapa tersembunyi-nya Snake. Semakin tinggi angka index camo, maka Snake semakin tidak terlihat oleh pandangan musuh.
Selain itu, game ini mempertahankan sistem survival yang kompleks dari versi originalnya, namun dengan antarmuka yang lebih intuitif. Snake harus makan untuk menjaga stamina, lalu mengobati luka dengan berbagai macam peralatan medis yang dibawanya seperti disinfectant, bandage, hingga penawar racun, dan memperhatikan kondisi tubuhnya secara menyeluruh. Luka yang tidak dirawat akan berdampak jangka panjang dan mempengaruhi permainan — ia dapat menurunkan akurasi, memperlambat gerakan, bahkan memengaruhi kondisi cutscene tertentu.

Makanan bukan hanya sumber energi, tapi juga bagian dari ekosistem. Snake dapat berburu ular, katak, atau buah-buahan, dan setiap jenis makanan memiliki efek berbeda. Selain itu, ia juga dapat menemukan makanan yang lebih proper seperti meat calorie atau noodle yang tersebar di tempat-tempat tersembunyi atau di pojok suatu ruangan. Beberapa efek makanan ini dapat meningkatkan stamina, sementara yang lain bisa menyebabkan keracunan. Anda mesti cermat dalam memanfaatkan kondisi makanan ini, karena bahkan makanan yang busuk atau beracun pun dapat Anda manfaatkan menjadi sebuah jebakan yang berguna.

Sistem combat dalam MGS Delta mengalami peningkatan yang signifikan, khususnya pada pertarungan jarak dekat atau CQC (Close Quarter Combat). Jika dibandingkan pada versi originalnya, animasi pertarungan terasa lebih halus, respons yang lebih cepat, dan variasi gerakan yang lebih banyak. Snake bisa melakukan takedown secara diam-diam, melempar musuh, atau menggunakan mereka sebagai tameng hidup. Setiap gerakan terasa memiliki impact yang berarti, dan suara benturan serta rintihan musuh menambah intensitas emosional.
Jika dibandingkan dengan versi original pada PS2 lalu, MGS Delta jelas lebih halus dan responsif. Kontrol yang dulu terasa kaku kini menjadi luwes. Kamera yang dulu terbatas kini memberikan kebebasan penuh. Namun, struktur level tetap sama—area semi-terbuka dengan loading antar zona. Ini membuat Delta terasa seperti reproduksi yang setia pada asalnya, bukan sekedar perubahan sembrono yang merusak esensi ikonisnya.
Namun kami akui bahwa beberapa bagian dari game ini memang terasa “ketinggalan zaman” jika dibandingkan kemajuan mekanik game modern, seperti misalnya sistem AI musuh yang lebih cerdas, lingkungan yang benar-benar terbuka, atau interaksi yang lebih dinamis. Tetapi, MGS Delta lebih memilih untuk menjaga warisan, bukan menantangnya. Dalam konteks ini, gameplay-nya menjadi ruang nostalgia yang diperhalus, yang tidak mengikuti pakem era gaming modern yang serba cepat dan penuh aksi bombastis.

Salah satu kekuatan Delta yang mungkin tidak dimiliki game modern lain adalah bagaimana dunia merespons tindakan Anda sebagai pemain. Jika Snake berjalan di lumpur, pakaian akan kotor dan mengurangi efektivitas camo. Jika ia makan makanan basi, ia bisa muntah dan menarik perhatian musuh. Bahkan waktu dan cuaca memengaruhi gameplay—malam hari memberikan perlindungan visual, tapi juga mengurangi visibilitas pemain.
Detail-detail tersebut membuat lingkungan di sekitar Snake bukan hanya latar, tapi memang menjadi bagian dari sistem yang hidup. Tentunya ini akan menciptakan pengalaman bermain yang imersif dan filosofis: bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan setiap pilihan adalah refleksi dari nilai yang kita pegang.
Meski Metal Gear Solid Delta: Snake Eater tampil sebagai rekonstruksi visual dan atmosferik yang memukau, ia tidak sepenuhnya bebas dari kekurangan. Salah satu isu paling mencolok adalah pendekatannya yang terlalu konservatif terhadap struktur desain asli. Area permainan masih terbagi dalam zona-zona sempit dengan sistem loading antar wilayah, yang terasa ketinggalan zaman di tengah tren dunia terbuka yang lebih seamless.
Alih-alih memanfaatkan teknologi modern untuk menciptakan lingkungan yang benar-benar terbuka dan dinamis, Delta memilih untuk mempertahankan batas-batas lama, sehingga eksplorasi terasa lebih terkurung daripada bebas. Ini bukan sekadar soal teknis, tetapi juga soal filosofi desain—bahwa dunia Snake Eater, meski indah, belum sepenuhnya hidup sebagai ekosistem yang bereaksi secara organik terhadap pemain.

Selain itu, meskipun sistem stealth dan survival telah diperhalus, tidak banyak inovasi baru yang ditambahkan. Mekanik seperti camo, stamina, dan pengobatan luka tetap berjalan seperti dulu, dengan sedikit penyesuaian antarmuka. Bagi pemain veteran, ini bisa terasa seperti deja vu yang terlalu familiar, sementara bagi pemain baru, kompleksitas sistem tersebut bisa menjadi penghalang tanpa adanya tutorial atau onboarding yang lebih intuitif. Delta seolah berjalan di garis tipis antara pelestarian dan stagnasi—ia ingin menjaga warisan, namun kadang lupa bahwa warisan pun perlu ruang untuk berevolusi.
Dari sisi naratif, meskipun cutscene dan voice acting telah diperbarui secara teknis, tidak ada tambahan konten cerita atau perluasan karakter yang berarti. Ini membuat Delta terasa seperti pengalaman yang sudah kita kenal, hanya dengan lapisan visual baru. Beberapa momen emosional yang dulu kuat kini terasa kurang menggigit karena framing dan pacing yang tidak sepenuhnya diadaptasi untuk audiens modern. Bahkan performa David Hayter, meski tetap solid, kadang terjebak dalam ritme dialog yang terasa terlalu teatrikal untuk konteks sinematik yang lebih realistis.

Presentation
Visual
Dalam Metal Gear Solid Delta: Snake Eater, presentasi bukan sekadar peningkatan teknis, melainkan rekonstruksi atmosfer yang menyeluruh. Visualnya dibangun dengan Unreal Engine 5, menghasilkan dunia yang nyaris fotorealistik namun tetap mempertahankan nuansa sinematik khas seri Metal Gear.
Hutan tropis yang menjadi latar utama kini tampil dengan detail yang memukau—dedaunan bergoyang pelan oleh angin, embun pagi menempel di permukaan daun, dan cahaya matahari menembus celah pepohonan dengan volumetrik lighting yang dramatis. Model karakter seperti pada Naked Snake dan Eva, menampilkan tekstur kulit, rambut, dan pakaian yang sangat realistis, sementara animasi tubuhnya—dari merayap hingga mengobati luka—diperhalus dengan motion capture yang presisi, menciptakan kesan bahwa tubuh Snake adalah medan konflik yang nyata dan hidup.
Efek cuaca seperti hujan, kabut, dan badai petir bukan hanya elemen visual, tetapi juga memperkuat suasana dan memengaruhi gameplay secara langsung. Hujan menambah ketegangan, kabut menciptakan misteri, dan petir menjadi momen dramatis yang bisa menyamarkan suara langkah. Cutscene kini tampil dengan framing yang lebih sinematik, depth of field yang tajam, dan transisi yang halus, memperkuat kesan bahwa Delta bukan hanya sebuah game, tetapi juga sebuah karya sinema interaktif yang menghormati warisan naratif Kojima.

Audio
Di sisi audio, Delta menunjukkan kekuatan yang lebih subtil namun sangat menentukan. Desain suara lingkungan terasa organik dan hidup—burung berkicau di kejauhan, ranting patah saat musuh mendekat, dan suara air mengalir menciptakan rasa tempat yang nyata dan imersif.
Musik orkestra yang melankolis tetap hadir, dengan aransemen yang lebih kaya dan tekstur yang lebih dalam. Lagu ikonik “Snake Eater” muncul dalam versi remaster yang dramatis, dengan string section yang lebih ekspresif dan vokal yang resonan, memperkuat tema nostalgia dan tragedi.
Namun, kekuatan terbesar audio Delta justru terletak pada keberaniannya untuk diam. Dalam banyak momen, tidak ada musik—hanya suara alam dan napas Snake. Keheningan ini menciptakan ruang reflektif yang memperkuat tema kesendirian dan eksistensialisme.
Pengisi suara menjadi elemen emosional yang tak tergantikan. David Hayter kembali sebagai Naked Snake, dan performanya di Delta terasa lebih matang dan ekspresif. Suaranya yang serak dan berat bukan hanya menyampaikan dialog, tetapi juga rasa sakit, keraguan, dan determinasi.
Bahkan dalam momen diam, napas dan intonasinya menyampaikan lebih dari kata-kata. Karakter pendukung seperti Eva, The Boss, dan anggota Cobra Unit juga mendapatkan rekaman ulang yang lebih kaya secara emosi. The Boss, khususnya, tampil dengan suara yang tenang namun penuh gravitas, menciptakan aura mentor sekaligus antagonis yang kompleks dan menggugah. Teknologi facial capture memungkinkan ekspresi wajah yang lebih akurat dan sinkron dengan suara, membuat interaksi antar karakter terasa lebih manusiawi dan menyentuh.
Secara keseluruhan, presentasi Delta bukan hanya soal tampilan dan suara, tetapi tentang bagaimana dunia Snake Eater dibangkitkan kembali dengan rasa hormat dan kedalaman emosional. Ia bukan hanya memanjakan mata dan telinga, tetapi juga mengajak pemain untuk merasakan, merenung, dan menyelami makna di balik setiap bisikan angin dan tatapan mata.

Value
MGS Delta hadir dalam tiga edisi: Standard Edition seharga $69.99, Digital Deluxe Edition di $79.99, dan Collector’s Edition yang dibanderol $199.99. Jika kita fokus pada edisi Standard dan Deluxe—yang paling relevan untuk gamer yang mengutamakan konten digital dan pengalaman bermain—maka pertanyaannya adalah: apakah remake ini layak untuk harga yang ditawarkan?
Dari sisi konten, MGS Delta menawarkan rekonstruksi penuh dari Metal Gear Solid 3: Snake Eater, termasuk visual yang dibangun dengan Unreal Engine 5, sistem kontrol yang diperbarui, voice acting yang direkam ulang, dan peningkatan kualitas audio serta animasi. Meski struktur level dan desain gameplay tetap setia pada versi originalnya di PS2, pengalaman yang diberikan jauh lebih halus, imersif, dan sinematik. Ini bukan sekadar remaster, tapi sebuah remake yang berusaha menjaga esensi sambil memperbarui presentasi dan kenyamanan bermain.
Namun, jika kita menilai dari perspektif konten baru, Delta tidak menawarkan ekspansi cerita, misi tambahan, atau mode gameplay baru. Ia adalah pengalaman yang sudah dikenal, hanya dikemas ulang dengan teknologi modern. Bagi pemain veteran, ini bisa terasa seperti nostalgia yang mahal. Tapi bagi pemain baru, Delta adalah pintu masuk yang ideal ke dalam dunia Metal Gear—dengan kualitas produksi yang setara dengan game AAA modern.
Jika kita menilai dari sudut pandang rasio harga terhadap konten gameplay, maka versi Standard adalah pilihan paling rasional. Dengan $69.99, pemain mendapatkan pengalaman penuh dari Snake Eater dalam versi terbaiknya sejauh ini. Tidak ada DLC tersembunyi, tidak ada sistem monetisasi tambahan, dan tidak ada konten yang dikunci di balik paywall. Ini adalah game yang utuh, dan dalam era di mana banyak judul AAA datang dengan sistem live service atau microtransaction, Delta justru menawarkan pengalaman yang selesai dan padat.
Conclusions
Metal Gear Solid Delta: Snake Eater adalah sebuah karya legendary, dari lahir dari buah pikir seorang jenius di dunia pergamingan, yang berdiri di antara nostalgia dan modernitas. Ia bukan sekadar remake, melainkan sebuah penghormatan yang penuh rasa terhadap warisan naratif dan atmosferik dari versi aslinya.
Dengan visual yang memukau, sistem gameplay yang diperhalus, dan audio yang menyentuh, Delta berhasil menghidupkan kembali dunia Snake Eater dengan kedalaman emosional yang tetap relevan. Namun, pilihan untuk mempertahankan struktur lama tanpa banyak inovasi membuatnya terasa lebih sebagai reproduksi yang setia daripada evolusi yang berani.
Meski tidak menyuguhkan konten baru atau perluasan cerita, Delta tetap memberikan pengalaman yang padat, reflektif, dan filosofis. Bagi pemain baru, ini adalah pintu masuk terbaik ke semesta Metal Gear. Namun bagi para pemain lama, ini adalah perjalanan kembali untuk nostalgia — dengan semua keindahan dan keterbatasannya. Sebuah karya yang tidak mencoba menjadi sesuatu yang baru, tapi mengingatkan mengapa ia dulu begitu berarti dan membekas dalam ingatan masa kecil kita.
+ Visual Modern yang Memukau
+ Audio dan Voice Acting yang Autentik
+ Gameplay yang tetap mempertahankan rasa originalnya tetapi dengan kualitas yang lebih halus
+ Tidak ada Mikrotransaksi atau DLC Tambahan
+ Jalan cerita dengan narasi filosofis yang tetap relevan
+ Cocok untuk pemain baru dan maupun pemain lama
- Minim Inovasi dalam Struktur Cerita
- Desain Level yang Terasa Usang
- AI Musuh yang Kurang Cerdas
- Tidak Ada Konten Bonus atau Behind-the-Scenes
- Harga yang Relatif Tinggi untuk Remake
Meski tidak menyuguhkan konten baru atau perluasan cerita, Delta tetap memberikan pengalaman yang padat, reflektif, dan filosofis. Bagi pemain baru, ini adalah pintu masuk terbaik ke semesta Metal Gear. Namun bagi para pemain lama, ini adalah perjalanan kembali untuk nostalgia — dengan semua keindahan dan keterbatasannya. Sebuah karya yang tidak mencoba menjadi sesuatu yang baru, tapi mengingatkan mengapa ia dulu begitu berarti dan membekas dalam ingatan masa kecil kita.
![[Review] MIO: Memories in Orbit](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/MIO-Banner-115x115.jpg)
![[Review] Dynasty Warriors Origins: Visions of Four Heroes](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Dynasty-Warriors-Origins-Visions-of-Four-Heroes-Banner-115x115.jpg)
![[Event] SEGA ATLUS FESTIVAL 2026 Di Jakarta](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/SEGA-ATLUS-Festival-2026-115x115.jpg)
![[Review] MIO: Memories in Orbit](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/MIO-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Dynasty Warriors Origins: Visions of Four Heroes](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Dynasty-Warriors-Origins-Visions-of-Four-Heroes-Banner-200x250.jpg)
![[Review] FINAL FANTASY VII REMAKE INTERGRADE (NS2)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Final-Fantasy-VII-Remake-Intergrade-Banner-200x250.jpg)
![[Event] SEGA ATLUS FESTIVAL 2026 Di Jakarta](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/SEGA-ATLUS-Festival-2026-200x250.jpg)
![[Review] I Am Future](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/I-Am-Future-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Fighting Force Collection](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Fighting-Force-Collection-Banner-200x250.jpg)
![[News] Square Enix Umumkan Life is Strange: Reunion](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Life-is-Strange-Reunion-Banner-200x250.jpg)
![[Review] DRAGON BALL Z: KAKAROT – DAIMA: Adventure Through The Demon Realm Part 2](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/DBZ-Kakarot-Daima-Part-2-Wallpaper-200x250.jpg)
![[News] Marathon Siap Meluncur 5 Maret 2026](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Marathon-Banner-200x250.jpg)

![[Review] MIO: Memories in Orbit](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/MIO-Banner-360x240.jpg)
![[News] Bocoran Gameplay Assassin’s Creed Mirage Mengemuka!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2023/05/Assassins-Creed-Mirage-official-screenshots-1-scaled-1-360x240.jpg)
![[Review] FINAL FANTASY VII REMAKE INTERGRADE (NS2)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Final-Fantasy-VII-Remake-Intergrade-Banner-360x240.jpg)
![[Review] Love Too Easily 2: Summer Pocha](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/12/Love-Too-Easily-2-Banner-360x240.jpg)