Troublemaker 2: Beyond Dream
Gamecom Team
indie.io
15 September 2025
PC
Action-adventure
Dewasa
Digital
25 GB
Rp 211.300
Setelah sukses dengan Troublemaker: Raise Your Gang pada 2023, Gamecom Team—studio asal Malang yang kini menjadi salah satu pionir game naratif Indonesia—kembali dengan sekuel yang lebih ambisius: Troublemaker 2: Beyond the Dream. Iterasi kedua ini tampaknya berhasil membawakan kemajuan yang cukup berarti dari game pertamanya.
Dirilis pada 15 September 2025 untuk PC via Steam, game ini membawa kita kembali ke dunia remaja yang keras, penuh konflik, namun juga sarat harapan. Dengan latar kota fiksi Jayakarta Selatan, Gamecom mencoba meracik sebuah pengalaman open-world beat-’em-up a la Yakuza yang tak hanya menghibur, tapi juga menyentuh sisi emosional dan sosial pemainnya.
Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Story
Cerita dimulai dua tahun setelah Budi menyandang gelar “Cipta Wiyata Last Champion.” Ia kini lebih dewasa, namun tetap terjebak dalam dinamika sosial yang tak kalah brutal. Jayakarta Selatan bukan sekadar latar, tapi cermin dari realitas urban Indonesia: keras, penuh skandal, dan menyimpan luka di balik gemerlapnya.
Di tengah kota yang mulai dikuasai geng jalanan dan peredaran narkoba, muncul Jordan—mahasiswa idealis yang ingin membangun band bernama Beyond Dream. Namun idealisme Jordan segera berbenturan dengan kenyataan pahit: teman-teman yang terjerat masalah, mimpi yang mulai retak, dan tekanan sosial yang tak kenal ampun.

Pertemuan Jordan dan Budi bukan sekadar pertemuan dua karakter, tapi dua dunia yang kontras. Budi, dengan masa lalu penuh kekerasan dan geng Parakacuk yang kini dewasa, bertemu Jordan yang masih menyimpan bara semangat musik. Keduanya terhubung oleh luka dan harapan, dan dari sinilah cerita mulai berkembang.
Di pertengahan game, konflik mulai memuncak: Jordan harus memilih antara mempertahankan idealismenya atau menyerah pada sistem yang korup. Sementara Budi mulai mempertanyakan makna dari kekuatan dan menyadari dendam masa lalunya. Apakah mereka berdua dapat saling bahu membahu menghadapi berbagai masalah yang menghadang, dan meraih impian mereka masing-masing?
Temukan jawabannya dengan memainkan Troublemaker 2: Beyond Dream!

Gameplay
Secara gameplay, bisa dibilang Troublemaker 2 adalah evolusi dari pendahulunya. Sistem combat kini jauh lebih kompleks dan lebih responsif. Pada gama ini, Anda akan memainkan dua karakter protagonis, yakni Budi dan Jordan. Setiap karakter memiliki gaya bertarung yang unik: Budi lebih agresif dan brutal, sementara Jordan mengandalkan teknik dan kecepatan. Kombinasi pukulan, tendangan, dan skill khusus yang disebut “Gerakan Gokil” bisa dikembangkan melalui sistem upgrade yang lebih mendalam dan bervariasi. Efek visual dari pertarungan—seperti motion blur, efek darah, dan animasi knockdown—memberikan sensasi yang cukup memuaskan.
Troublemaker 2 membangun fondasi gameplay-nya dari genre beat-’em-up klasik, namun dengan pendekatan yang lebih modern dan kontekstual terhadap kehidupan remaja urban di Indonesia. Sistem pertarungan beat ‘em up a la game Yakuza memang menjadi core utama dalam game ini, namun Gamecom Team berhasil menyulamnya dengan elemen open-world, manajemen sumber daya, dan sistem endgame yang memberikan variasi permainan yang lebih luas.

Pertarungan dalam game ini bukan sekadar adu pukul, tapi ekspresi karakter. Budi, dengan gaya bertarung yang agresif dan penuh amarah, memiliki serangan berat yang bisa menghancurkan pertahanan musuh. Jordan, lebih teknikal, mengandalkan combo cepat dan dodge yang presisi. Setiap karakter memiliki skill tree yang bisa dikembangkan melalui XP dan item tertentu, memungkinkan pemain untuk menyesuaikan gaya bertarung sesuai preferensi.
Sistem stamina dan rage bar menambah lapisan strategi. Rage bar bisa diisi melalui serangan berturut-turut tanpa terkena damage, dan saat penuh, membuka akses ke Serangan Gokil—animasi serangan sinematik yang tidak hanya efektif, tapi juga emosional. Efek visual seperti motion blur, partikel debu, dan efek suara pukulan yang berat membuat setiap pertarungan terasa visceral dan memuaskan.
AI musuh cukup adaptif. Mereka bisa memanggil backup, menggunakan lingkungan sebagai senjata, dan bahkan mengejek pemain saat unggul. Namun, di beberapa titik, pola mereka masih bisa dieksploitasi, terutama saat bertarung di ruang sempit.

Dunia game terbuka ini bukan sekadar latar, tapi karakter itu sendiri. Jayakarta Selatan dibagi menjadi beberapa distrik. Masing-masing memiliki atmosfer, NPC, dan misi yang unik. Anda bisa menjelajahi dengan berjalan kaki atau menggunakan fitur fast travel dengan mengendarai transportasi umum seperti angkot—yang kadang menyisipkan humor lokal.
Interaksi dengan lingkungan sangat beragam. Pemain bisa nongkrong di warung kopi, bermain gitar di taman, atau bahkan ikut demo mahasiswa. Setiap aktivitas memberikan reward sosial, XP, atau membuka jalur cerita baru. Dunia ini terasa hidup, bukan hanya karena desain visualnya, tapi karena ritme sosial yang tercermin dari dialog, poster jalanan, dan radio lokal yang terus mengomentari peristiwa dalam game.

Misi utama berfokus pada konflik antara geng jalanan dan idealisme Jordan membangun band Beyond Dream. Namun misi sampingan justru menjadi ruang eksplorasi karakter dan tema. Terkadang misi sampingan yang ada terdengar cukup serius, seperti membantu teman yang kecanduan narkoba atau menyelamatkan mural dari vandalisme. Tetapi ada juga misi yang sangat konyol seperti membantu orang yang ingin buang air besar, sehingga banyanya variasi misi memberikan nuansa berbeda yang tidak membuat Anda bosan.
Salah satu elemen lokal yang unik adalah sistem makanan. Pemain bisa membeli makanan di warung, kantin sekolah, atau restoran. Setiap makanan memiliki efek buff atau debuff yang realistis dan kadang lucu. Nasi goreng pedas meningkatkan kecepatan serangan, tapi bisa menurunkan akurasi karena efek “kepanasan.” Es teh manis memberikan regenerasi stamina, tapi jika dikonsumsi berlebihan bisa memicu efek “kembung” yang memperlambat gerakan.
Ada juga sistem Food Combo, di mana kombinasi makanan tertentu bisa membuka efek spesial. Misalnya, makan bakso dan minum kopi hitam bisa membuka Focus Mode, memperlambat waktu saat bertarung. Sistem ini mendorong pemain untuk bereksperimen dan mengenal budaya kuliner lokal sebagai bagian dari strategi gameplay.

Meski banyak peningkatan, Troublemaker 2 tidak lepas dari kekurangan. Sistem navigasi kadang membingungkan, terutama saat mencari lokasi misi di area padat. Beberapa bug seperti karakter tersangkut di objek atau cutscene yang tidak aktif masih muncul, meski tidak terlalu mengganggu progresi. AI musuh juga kadang terlalu mudah ditebak, membuat beberapa pertarungan terasa repetitif.
Selain itu, pacing cerita di awal terasa lambat. Terlalu banyak misi sampingan yang tidak relevan dengan narasi utama bisa membuat pemain kehilangan fokus. Beberapa dialog juga terasa terlalu eksposisional, kurang subtil dalam menyampaikan emosi. Namun, kekurangan ini bisa ditoleransi mengingat ambisi dan skala yang coba dicapai oleh Gamecom Team.

Presentation
Visual
Jika Troublemaker 2 adalah mimpi yang retak, maka aspek visual dan audionya adalah medium tempat mimpi itu berbicara. Gamecom Team tampaknya sangat sadar bahwa estetika bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari narasi dan atmosfer. Jayakarta Selatan bukan hanya kota fiksi, tapi representasi visual dari konflik batin para karakter—keras, penuh warna, tapi juga menyimpan kesunyian.
Secara teknis, Troublemaker 2 mengalami lompatan besar dari pendahulunya. Dunia game dirancang dengan engine yang lebih stabil dan mendukung pencahayaan dinamis. Efek ambient occlusion, volumetric lighting, dan real-time shadow membuat setiap sudut kota terasa hidup. Saat matahari terbenam di Distrik Pendidikan, cahaya jingga menyapu mural jalanan yang menggambarkan mimpi remaja. Di malam hari, lampu neon dari studio musik dan warung kopi menciptakan kontras antara harapan dan kehampaan.

Desain lingkungan sangat kontekstual. Poster demo mahasiswa, coretan dinding bertuliskan “Mimpi Itu Mahal,” dan papan reklame yang mempromosikan band Beyond Dream bukan sekadar dekorasi, tapi bagian dari worldbuilding. Setiap elemen visual menyampaikan narasi sosial yang subtil, seolah kota ini berbicara kepada pemain.
Model karakter juga mengalami peningkatan. Ekspresi wajah kini lebih halus dan mampu menyampaikan emosi kompleks—ketakutan, amarah, keraguan. Animasi tubuh saat bertarung, berjalan, atau sekadar duduk di taman terasa natural dan penuh detail. Cutscene sinematik menggunakan 2D art yang sederhana, seperti layaknya Anda sedang membaca komik. Namun sayangnya, pada beberapa bagian eksekusi nya terasa aneh, sehingga dapat mempengaruhi pacing dan tensi cerita.
Audio
Audio dalam Troublemaker 2 bukan sekadar latar, tapi jantung dari pengalaman. Soundtrack utama digubah oleh komposer lokal yang menggabungkan elemen rock alternatif, lo-fi, dan instrumen tradisional seperti gamelan dan angklung. Hasilnya adalah lanskap suara yang unik—kadang melankolis, kadang penuh amarah, tapi selalu relevan dengan emosi cerita.
Lagu-lagu dari band Beyond Dream menjadi highlight. Liriknya menyentuh tema kehilangan, mimpi, dan pemberontakan. Lagu-lagu ini tidak hanya memperkuat atmosfer, tapi juga menjadi bagian dari narasi.
Voice acting cukup solid, meski belum sepenuhnya natural. Beberapa dialog terasa kaku atau terlalu teatrikal, namun karakter utama seperti Jordan dan Budi memiliki delivery yang emosional dan meyakinkan. Akting suara NPC kadang repetitif, tapi tidak mengganggu secara signifikan.
Efek suara lingkungan sangat mendetail. Suara motor lewat, anak-anak bermain di gang, radio warung yang memutar lagu dangdut, hingga suara demo mahasiswa yang bergema di kejauhan—semua menciptakan ilusi kota yang hidup. Saat bertarung, efek pukulan, benturan, dan teriakan musuh terasa berat dan memuaskan. Bahkan suara langkah kaki di berbagai permukaan—aspal, rumput, lantai studio—didesain dengan presisi.

Value
Dengan harga rilis sebesar IDR 170.000 / USD 24.99 di Steam, Troublemaker 2 menempatkan dirinya sebagai game indie dengan value yang sangat kompetitif. Di titik harga ini, Anda akan mendapatkan sebuah game dengan kampanye cerita penuh dengan dua karakter utama dan puluhan misi utama serta sampingan, Open-world urban Indonesia yang bisa dijelajahi dengan berbagai aktivitas sosial, eksplorasi, dan mini games, dan sistem pertarungan kompleks dengan skill tree dan gerakan skill yang unik.
Dengan harga sepertiga dari Yakuza: Like a Dragon, game ini memberikan pengalaman naratif dan gameplay yang tidak kalah mendalam, meski skalanya lebih kecil. Dibanding Sleeping Dogs, Troublemaker 2 memang tidak memiliki sistem kendaraan dan gunplay, namun menggantikannya dengan sistem sosial dan makanan yang lebih kontekstual dan unik.
Yang membuat Troublemaker 2 menonjol adalah identitas lokalnya. Di saat Yakuza dan Sleeping Dogs membawa budaya Jepang dan Hong Kong ke panggung global, Troublemaker 2 membawa Indonesia ke spotlight dengan cara yang autentik dan reflektif. Ini bukan sekadar game, tapi representasi budaya, mimpi, dan konflik sosial yang jarang diangkat dalam media interaktif.
Conclusions
Sebagai sebuah karya sekuel, Troublemaker 2: Beyond the Dream bukan hanya berhasil memperluas dunia dan karakter yang telah dibangun sebelumnya, tapi juga memperdalam tema-tema yang relevan dengan realitas sosial remaja Indonesia. Dengan narasi yang reflektif, sistem gameplay yang matang, serta atmosfer visual dan audio yang kuat, game ini menawarkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tapi juga menyentuh. Ia mengajak pemain untuk meninju realitas, menjelajah mimpi, dan menghadapi luka yang tak selalu bisa disembuhkan dengan kekuatan fisik semata.
Dari sisi value, Troublemaker 2 menunjukkan bahwa game lokal bisa bersaing secara konten dan kualitas dengan judul-judul internasional seperti Yakuza dan Sleeping Dogs, bahkan dengan harga yang jauh lebih bersahabat. Identitas budaya yang kuat, pendekatan naratif yang emosional, dan sistem gameplay yang kompleks dan adiktif menjadikannya bukan sekadar game, tapi medium ekspresi yang layak diapresiasi. Bagi pemain yang mencari pengalaman yang jujur, penuh konflik batin, dan sarat makna, Troublemaker 2 adalah mimpi yang patut diperjuangkan—meski jalannya penuh luka.
+ Narasi cerita yang emosional dan relevan dengan kehidupan sehari-hari khususnya di Indonesia
+ Dunia open-world yang detail dan kental dengan nuansa kearifan local
+ Sistem pertarungan yang lebih berkembang
+ Kualitas visual dan optimisasi yang cukup baik
+ Soundtrack orisinal yang menyatu dengan cerita
+ Harga yang sangat bersahabat dan worth it dengan kontennya
- Navigasi dan peta yang kurang intuitif dan kadang membingungkan
- AI musuh dan animasi yang masih terasa clunky
- Voice acting yang belum sepenuhnya natural
- Eksekusi cutscene sinematik terasa tidak optimal
- Pacing cerita awal yang lambat
- Minimnya variasi musuh dan tipe pertarungan
- Tidak ada sistem kendaraan yang bisa dikendalikan langsung
- Skala dunia terbuka yang masih terbatas
![[News] Sonic Rumble Resmi Rilis dan Hadirkan Skin dan Sticker Terbatas!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/11/Sonic-Rumble-Launch-Banner-115x115.jpg)
![[News] Aktris Baifern Bintangi Video Series Untuk Rayakan Perilisan Sword of Justice di Asia Tenggara](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/11/Sword-of-Justice-Baifern-115x115.jpg)
![[News] CBT “Blue Protocol: Star Resonance” Resmi Dimulai Hari Ini!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/11/Blue-Protocol-Closed-Beta-Test-115x115.jpeg)
![[Review] Assassin’s Creed Shadows (NS2)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/03/Assassins-Creed-Shadows-Banner-200x250.jpg)

![[Review] Call of Duty: Black Ops 7](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/11/Call-of-Duty-Black-Ops-7-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Octopath Traveler 0](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/12/Octopath-Traveler-0-Banner-200x250.jpg)
![[Recap] Pengumuman Dalam The Game Awards 2025](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/12/The-Game-Awards-2025-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Milano’s Odd Job Collection](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/11/Milanos-Odd-Job-Collection-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Romancing SaGa -Minstrel Song- Remastered International](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/11/Romancing-SaGa-Minstrel-Song-Remastered-International-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Project Motor Racing](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/11/Project-Motor-Racing-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Terrifier: The ARTcade Game](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/11/Terrifier-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Majogami](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/12/Majogami-Banner-200x250.jpg)

![[News] Bocoran Gameplay Assassin’s Creed Mirage Mengemuka!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2023/05/Assassins-Creed-Mirage-official-screenshots-1-scaled-1-360x240.jpg)
![[Review] Assassin’s Creed Shadows (NS2)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/03/Assassins-Creed-Shadows-Banner-360x240.jpg)
![[News] Sonic Rumble Resmi Rilis dan Hadirkan Skin dan Sticker Terbatas!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/11/Sonic-Rumble-Launch-Banner-360x240.jpg)