ROMEO IS A DEAD MAN
Grasshopper Manufacture
Netease
11 Februari 2026
PS5, Xbox Series, PC
Action-adventure
Dewasa
Digital
Rp 699.000
Apakah Anda pernah mendengar nama Goichi Suda atau yang lebih dikenal dengan nama SUDA51? Jika iya, maka Anda pasti adalah salah satu gamer yang berbudaya. SUDA51 adalah seorang kreator game yang terkenal dengan karya-karyanya yang unik nan nyentrik yang lain daripada game kebanyakan, seperti No More Heroes, Killer7, Lollipop Chainsaw dan Shadow of the Damned.
Lama tak terdengar sepak terjangnya sejak No More Heroes III, tahun 2026 ini beliau kembali melahirkan sebuah karya baru nan eksentrik berjudul ROMEO IS A DEAD MAN, sebuah judul yang mungkin akan sulit dipahami oleh sebagian besar gamer.
Apa yang sebenarnya beliau sampaikan lewat game terbarunya ini?
Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Story
Romeo Stargazer, seorang wakil sheriff yang tinggal di kota kecil nan tenang adalah tokoh utama cerita ini. Suatu malam, ia menemukan Juliet, seorang wanita yang kehilangan ingatannya, tergeletak di jalan. Terlepas dari namanya yang terdengar mencurigakan, Romeo langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka bertemu di sebuah restoran setiap malam dan kemudian cinta tumbuh di antara mereka. Akhirnya, Juliet membujuk Romeo untuk kawin lari dengannya, dan Romeo memutuskan untuk meninggalkan kota.
Kemudian, saat tiba pada hari mereka berencana kawin lari, yang muncul di rumah Romeo bukanlah Juliet, melainkan iblis putih. Iblis itu menyerang Romeo, mencabik-cabiknya dan meninggalkannya untuk mati.Namun, dengan menggunakan teknologi super dari ilmuwan jenius Profesor Benjamin yang merupakan kakek dari Romeo, secara mengejutkan nyawa Romeo terselamatkan dan hidup kembali sebagai Dead Man.
Bagaimana kelanjutan kisah Romeo sebagai Dead Man?
Temukan jawabannya dengan memainkan ROMEO IS A DEAD MAN!
Gameplay
Romeo is a Dead Man adalah sebuah game Action-adventure bertema fiksi ilmiah, yang menggabungkan antara elemen humor absurd dan brutalitas penuh darah. Anda akan berperan sebagai seorang pria bernama Romeo Stargazer yang diceritakan terselamatkan dari kondisi sekarat akibat eksperimen seorang ilmuwan bernama Profesor Benjamin yang merupakan kakeknya.
Kini, Romeo hidup menggunakan Dead Gear, sebuah topeng khusus yang memberinya kemampuan unik. Romeo bekerja sebagai agen khusus FBI yang bertugas memburu buronan ruang dan waktu paling berbahaya di alam semesta. Di sisi lain, ia juga punya misi lain untuk mencari kekasihnya, Juliet, yang hilang secara misterius.
Berikut bahas aspek gameplay selengkapnya:

Action
Berdasarkan pengalaman kami memainkan game-game karya SUDA51 di masa lalu, selalu ada saja elemen nyentrik dalam gamenya yang membuat pengalaman bermain Anda terasa unik nan menggelitik sehingga menjadi identitas game itu sendiri.
Game ini masih mengusung gameplay Hack-and-Slash ala No More Heroes atau Lollipop Chainsaw yang penuh gaya dan cipratan darah. Anda bisa melakukan aksi-aksi standar dalam game Action seperti berlari, menyerang, melompat, menghindar. Romeo dibekali sebilah pedang sebagai senjata jarak dekat dan untuk menebas setiap musuh yang menghadang.

Anda bisa mengombinasikan antara serangan lemah dan kuat untuk menciptakan rangkaian kombo. Sistem pertarungannya mudah dipelajari dan tidak serumit game-game Hack-and-Slash seperti Devil May Cry, misalnya. Jadi, para pendatang baru pun bisa dengan mudah menikmati game ini dengan santai.
Akan tetapi, berbeda dengan game-game Action modern pada umumnya yang menaruh Parry sebagai salah satu opsi defensif, di sini Anda tidak akan menemukan mekanik serupa karena sang kreator mengaku membenci mekanik Parry. Menurut beliau, Parry bisa merusak tempo pertarungan karena pemain harus menunggu momen musuh menyerang untuk dapat melakukan serangan balik. Alhasil, game ini hanya punya opsi Dodge saja untuk menunjang aksi yang cepat.
Progress System
Sistem progress dibagi menjadi dua, yaitu Weapon dan Badge. Upgrade senjata masih cukup mudah dipahami karena Anda hanya membutuhkan material bernama Sentrey untuk memperkuat senjata.
Di sisi lain, ada fitur bernama Badge, sebuah buff pasif yang dapat Anda pasang layaknya Equipment. Dengan badge, Anda bisa mendapatkan lebih banyak uang saat mengalahkan musuh hingga meningkatkan serangan jarak jauh dengan mengorbankan serangan jarak dekat.
Tapi yang paling absurd adalah cara Leveling karakter yang unik, di mana Anda harus bermain game retro ala Pac-Man dan Snake, di mana Anda harus “memakan” item-item yang bisa meningkatkan atribut karakter.
Mini-Games
Saat masa transisi menuju chapter berikutnya, biasanya Romeo akan tiba di kapal luar angkasa untuk berbicara dengan para NPC demi memajukan cerita. Di kapal-kapal ini, terdapat beberapa mesin arcade yang bisa Anda mainkan untuk mini-game. Setelah memainkan game Yakuza Kiwami 3, tentu kami mengharapkan mini-game dalam game ini juga bisa menghibur atau setidaknya mengurangi penat terhadap gameplay aksinya.
Namun, apa yang kami dapat justru sebaliknya. Mini-game di sini terasa menjengkelkan dan membuat frustasi. UI-nya membingungkan, tombolnya tidak responsif dan Anda juga tidak diajari bagaimana menjalankan mini-game ini dengan baik dan benar.

Presentation
Visual
Dari semua game modern yang pernah kami mainkan, ROMEO IS A DEAD MAN mungkin adalah game yang paling tidak konsisten dari sisi visual. Bagaimana tidak? Sejak awal kita disuguhkan oleh transisi visual yang berbeda 180 derajat, dari Full CG 3D, lalu beralih ke 2D ala anime, lalu pindah lagi jadi seperti komik, lalu pindah lagi ke visual pixelated ala game retro dan lain seterusnya.
Di satu sisi cara ini memang menarik perhatian, tetapi di usia kami yang sudah tak lagi muda, perubahan visual secara radikal seperti ini membuat mata dan otak kami kesulitan untuk memahami apa konteks dan urgensi yang sebenarnya hendak mereka sampaikan dalam presentasi visualnya.
Kami tahu bahwa SUDA51 adalah salah satu kreator game yang unik dan nyentrik, namun tidak seharusnya mereka mengacaukan ekspektasi gamer yang memainkannya. Setiap ada perubahan visual, Anda akan dipaksa untuk memahami semestanya dari ulang.
Terlepas dari cara mereka menampilkan visualnya, desain karakternya sendiri terbilang sangat keren, termasuk monster-monster yang Anda hadapi. Tapi, sayangnya kami sering menemukan penurunan framerate saat pertarungan yang cukup menghambat alur pertarungan.

Audio
Berbeda dengan visualnya yang sulit kami pahami, sisi audio bisa dibilang masih bisa kami terima karena musiknya mencerminkan kekacauan yang tengah terjadi. Dengan memadukan musik rock dan melodi aneh nan gila, ia berhasil memacu adrenalin Anda untuk terus mengayunkan pedang dan melibas musuh-musuh yang ada.
Efek suara dan para pengisi suara juga patut diacungi jempol karena meningkatkan pengalaman gameplay dan narasi cerita. Namun di sisi lain, kami merasa terkadang volume suaranya terlalu kecil sehingga membuat permainan terasa sepi di beberapa titik.

Value
Sebagai game action, ROMEO IS A DEAD MAN sebenarnya cukup bagus, walaupun belum bisa disejajarkan dengan game-game serupa keluaran terbaru. Ayunan senjatanya terasa bertenaga, efek-efeknya serangannya terasa meriah dan pertarungan bossnya cukup menantang.
Di menit-menit awal, kami masih bisa memaklumi ke-absurd-annya dan mencoba untuk menyukainya, namun masuk ke pertengahan game, kami justru berubah menjadi sangat membencinya karena apa yang ditawarkan game ini benar-benar sangat tidak konsisten dan agak menjengkelkan.
Bukannya menghibur, game ini justru berakhir membuat kami frustasi karena sulit memahami apa yang sebenarnya sedang disajikan, baik dari sisi gameplay maupun visual. Dengan harga Rp 699.000, Anda bisa membeli game yang lebih normal daripada ini.
Conclusions
Pada akhirnya, game ini hanya akan menghasilkan dua jenis tipe gamer setelah memainkan game ini, yaitu mereka yang sangat mencintainya atau justru sangat membencinya dan kami adalah tipe yang terakhir. Meskipun kami sudah pernah memainkan karya-karya SUDA51 sebelumnya seperti No More Heroes, Lollipop Chainsaw, Shadow of the Damned dan Killer is Dead, menurut kami ROMEO IS A DEAD MAN adalah karya SUDA51 paling absurd dalam artian yang negatif karena game ini benar-benar sulit untuk dipahami dari berbagai sisi, baik itu cerita, konteks, gameplay hingga arahan visualnya itu sendiri.
Di tengah padatnya game-game bagus yang rilis di bulan Februari, sulit rasanya untuk game ini bisa bersaing dengan judul-judul populer lainnya. Dengan keabsurd-an yang diusung olehnya, sulit untuk menarik perhatian gamer secara umum kecuali Anda benar-benar penggemar karya SUDA51.
+ Premis cerita yang menarik
+ Pertarungan boss yang menantang
+ Desain karakter yang keren
+ Soundtrack yang menggugah
- Membingungkan secara konteks
- Mekanik pertarungan masih agak kaku
- Sering terjadi penurunan framerate saat pertarungan
- Visual yang tidak konsisten
- Transisi visual secara radikal
- Mini-game yang menjengkelkan
- Tidak ada sistem Parry




![[Review] New Super Lucky’s Tale (PS5)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/New-Super-Luckys-Tale-Banner-115x115.jpg)
![[Review] Marathon](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Marathon-Review-Banner-115x115.jpg)
![[News] Koei Tecmo Umumkan Blue Reflection Quartet](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Blue-Reflection-Quartet-Banner-115x115.jpg)
![[Review] New Super Lucky’s Tale (PS5)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/New-Super-Luckys-Tale-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Marathon](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Marathon-Review-Banner-200x250.jpg)
![[News] Koei Tecmo Umumkan Blue Reflection Quartet](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Blue-Reflection-Quartet-Banner-200x250.jpg)
![[Review] The Liar Princess and The Blind Prince](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/The-Liar-Princess-and-the-Blind-Prince-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Back to the Dawn (NS2)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/back-to-the-dawn-beginners-guide-game-rant-200x250.jpg)
![[Review] Etrange Overlord](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Etrange-Overlord-Banner-200x250.jpg)
![[Recap] Xbox Partner Preview – Maret 2026](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Xbox-Partner-Preview-Maret-2026-200x250.jpg)
![[Review] Virtua Fighter 5: R.E.V.O. World Stage (NS2)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/10/Virtua-Fighter-5-REVO-World-Stage-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Moto Rush Reborn](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Moto-Rush-Reborn-Review-200x250.jpg)
![[Review] New Super Lucky’s Tale (PS5)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/New-Super-Luckys-Tale-Banner-360x240.jpg)
![[Recap] Xbox Partner Preview – Maret 2026](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Xbox-Partner-Preview-Maret-2026-360x240.jpg)
![[Review] Back to the Dawn (NS2)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/back-to-the-dawn-beginners-guide-game-rant-360x240.jpg)
![[Review] The Liar Princess and The Blind Prince](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/The-Liar-Princess-and-the-Blind-Prince-Banner-360x240.jpg)