The 9th Charnel
SAIKAT DEB CREATIONS
SOEDESCO
30 Januari 2026
PS5, Xbox Series, PC
Horror
Dewasa
Digital
US$ 29.99
Dengan diumumkannya Resident Evil Requiem akan rilis di akhir bulan Februari tahun ini, nampaknya para penggemar genre survival horror sudah sangat tidak sabar untuk segera memainkannya. Namun di awal bulan ini kita disuguhkan sebuah game indie perdana dari seorang developer berasal dari negara India bernama Saikat Deb, berjudul The 9th Charnel.
Saat mencari tahu apakah itu ‘Charnel House’, ternyata adalah sebuah bangunan kecil yang biasanya terletak di dekat gereja, berfungsi sebagai tempat menyimpan tengkorak-tengkorak manusia. Karena penuhnya tempat pemakaman di lokasi gereja, maka makam-makam lama terpaksa harus dibongkar untuk menggantikan pemakaman baru, dan para tulang belulang tersebut dipindahkan ke dalam bangunan Charnel.
Istilah lain dari Charnel House adalah tempat penuh dengan kematian dan kehancuran, dimana tema tersebut menjadi fokus utama game ini. Kesan pertama saat menonton trailer game ini mengingatkan saya kepada Outlast, dimana terlihat cukup misterius dan menarik untuk dimainkan. Ditambah tahun lalu Saikat Deb Creations diumumkan sebagai salah satu developer program PlayStation® Partners, memberikan kesan bahwa game ini berpotensial menjadi salah satu game survival horror yang berkualitas.
Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Story
Dibuka dengan cutscene yang dapat dibilang cukup kasar dan animasi terlihat seperti game era PlayStation 2, terlihat seorang ayah bersama anak perempuannya dan merujuk ke sebuah kalender bulan September 2008. Lalu berpindah ke cutscene berikut dimana sang protagonis bernama Michael bersama kedua rekan kerjanya sedang berkendara menuju suatu lokasi di malam hari saat suatu hal muncul tiba-tiba di depan mereka, menyebabkan kendaraan mereka mengalami kecelakaan jatuh ke tebing terjal.
Saat terbangun, seorang pria misterius menghampiri dan entah bagaimana mengetahui nama Michael, seolah-olah telah menunggu dirinya untuk turun ke lokasi di bawah tebing. Setelah itu pria tersebut memberikan suntikan untuk mengobati Michael, membuatnya tidur terlelap untuk beberapa saat. Ketika terbangun, pria misterius tersebut telah menghilang, dan petualangan Michael dimulai dengan menemukan sebuah lampu senter tergeletak di depannya, bertujuan untuk mencari jalan keluar dari lokasi misterius sambil menemukan kedua rekannya.
Gameplay
The 9th Charnel memiliki tampilan dari sudut pandang pertama yang cukup sempit, dan memiliki gerakan karakter yang lambat dan kaku, tidak seluwes Outlast atau Resident Evil 7: Biohazard. Beberapa menit awal permainan membuat saya terasa sedikit mual dan harus istirahat terdahulu sebelum akhirnya melanjutkan, karena mata saya harus menyesuaikan diri dengan framerate gamenya terdahulu. Saya biasa memainkan game-game First-Person Shooter dengan kecepatan reflek mata dan jari yang cukup cepat, maka hal ini cukup mengagetkan bagi saya.
Kembali ke mekanisme permainan, kurang lebih 3/4 permainan awal karakter kalian akan sangat rentan, hanya dapat melakukan aksi berjalan menyelinap, berlari, dan bersembunyi di tempat-tempat tertentu agar tidak terserang oleh pada makhluk misterius yang berusaha mengejar dan melukai kalian. Jika kalian mati oleh pada makhluk tersebut maka game akan meng-load ulang kepada lokasi auto save terakhir, jadi kalian tidak perlu khawatir apakah harus mengulang permainan dari awal kembali. Untuk bertahan hidup, kalian akan menemukan beberapa item healing namun setiap kali kalian gunakan hanya akan mengisi ulang berapa poin atau persen dari maksimum HP.
Sama seperti game-game survival horror pada umumnya, kalian akan berusaha melewati dari satu lokasi ke lokasi berikutnya dengan menyelesaikan suatu teka-teki. Di awal permainan kalian harus menemukan tiga sekering untuk membuka pintu keluar ke babak berikutnya, mencari kunci pintu atau gigi roda untuk membuka pintu-pintu yang sebelumnya terkunci, dan beberapa teka-teki visual lainnya. Bagi kalian yang sudah pengalaman memainkan genre game ini akan segera mengetahui bagaimana cara kerja permainan ini, karena cukup jelas dan tidak terlalu sulit.
Dengan total delapan babak, tiap babak terasa sangat singkat karena terpaku kepada satu objektif atau teka-teki yang harus kalian pecahkan, melewati lorong-lorong sempit sambil menghindari dan bersembunyi dari para makhluk yang tidak pernah dijelaskan nama atau asal muasalnya. Dan game ini pun cukup linear, dimana kalian tidak akan kembali ke lokasi babak-babak sebelumnya, berjalan maju terus ke lokasi baru di babak berikut hingga akhir permainan.
Menjelang akhir permainan kalian akan diberikan dua jenis senjata yaitu pistol dan shotgun, dimana akhirnya kalian dapat berlagak seperti Leon atau Ethan melawan balik para musuh yang di babak-babak sebelumnya hanya dapat kalian hindari saja. Baru kali ini saya mengetahui ada shotgun yang dapat menampung hampir 100 peluru per clip amunisi dan memiliki laju tembakan sangat cepat, sehingga dengan mudah kalian dapat membunuh tiap musuh yang kalian hadapi tanpa perlu khawatir akan kehabisan peluru.
Presentation
Visual
Sebagai game yang dibuat oleh seorang developer, visual The 9th Charnel terlihat cukup bagus dan detil. Saat sedang di lokasi eksterior, cahaya atau lampu terlihat cukup natural dengan tampilan sekitar dikerubungi oleh kabut. Desain interior juga terlihat beragam dari satu babak ke babak berikutnya, walau banyak meniru dari game-game survival horror lainnya. Namun setiap memasuki cutscene para desain dan animasi tiap karakter terlihat sangat kaku, khususnya saat sedang berbicara. Visual anak perempuan bernama Sarah pun terlihat seperti boneka porselen dibandingkan manusia, sempat membuat saya berpikir apakah dia bukan manusia dan merupakan suatu plot twist dari game.
Audio
Kebalikan dari visual, audio The 9th Charnel terdengar cukup bagus dan jernih, membuat kalian harus berhati-hati saat sedang memasuki bangunan atau ruangan sambil menunggu suatu kejutan di balik pintu depan kalian. Untuk suara dialog para karakter terdengar cukup bagus, namun tidak didukung oleh visual dan animasi yang sepadan.
Value
Dengan durasi game kurang lebih 4 jam tergantung dari kecepatan kalian memecahkan tiap teka-teki, The 9th Charnel terasa sangat singkat dimana menurut saya bagus karena kalian tidak perlu bermain terlalu lama dengan berbagai kekurangannya. Dan game ini cukup mudah untuk mendapatkan trofi Platinum bagi para trophy hunter, dimana kebanyakan trofi didapat dari dengan menamatkan game dengan empat trofi missable yang dapat kalian temukan solusi nya secara online.
Conclusions
Sebagai game survival horror yang dibuat oleh satu orang developer, The 9th Charnel memiliki konsep yang cukup potensial, walau tidak menawarkan suatu yang baru dari game-game pendahulunya. Sayangnya banyak hal yang membuat pengalaman permainan menjadi kurang menarik, seperti gerakan karakter, para musuh, dan visual dan animasi tiap cutscene yang terlihat kasar. Bahkan kisah gamenya pun cukup membingungkan dan tidak tertata dengan baik sehingga di tengah permainan kalian sudah tidak perduli apa yang sebenarnya terjadi. Untungnya durasi game ini tidak terlalu lama, sehingga dapat menjadi opsi sebagai game yang dapat kalian mainkan di saat akhir minggu.
Disclosure: I received a free review copy of this product from https://www.keymailer.co
#keymailer #9thCharnel
+ Permainan survival horror yang menarik namun tidak baru
+ Audio berikan atmosfir game terasa mencekam
- Ceritanya kurang menarik
- Kontrol game terasa kaku dan lambat
- Framerate rendah dan mengganggu
- Cutscene masih terlihat kasar






![[Review] ICARUS: Console Edition](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Icarus-Banner-115x115.jpg)
![[Review] Mega Man Star Force Legacy Collection](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/04/Mega-Man-Star-Force-Legacy-Collection-Review-Banner-115x115.jpg)

![[Review] ICARUS: Console Edition](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Icarus-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Island of Hearts](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Island-of-Hearts-Review-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Mega Man Star Force Legacy Collection](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/04/Mega-Man-Star-Force-Legacy-Collection-Review-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Legacy of Kain: Ascendance](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Legacy-of-Kain-Ascendance-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Ereban: Shadow Legacy](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Ereban-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Darwin’s Paradox!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/04/Darwins-Paradox-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Screamer](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Screamer-Banner-200x250.jpg)
![[Review] New Super Lucky’s Tale (PS5)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/New-Super-Luckys-Tale-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Marathon](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Marathon-Review-Banner-200x250.jpg)

![[Review] Screamer](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Screamer-Banner-360x240.jpg)
![[Review] Back to the Dawn (NS2)](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/back-to-the-dawn-beginners-guide-game-rant-360x240.jpg)
![[Review] Island of Hearts](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Island-of-Hearts-Review-Banner-360x240.jpg)