[Review] Planet of Lana II: Children of the Leaf
Muhammad Irfan Zidni
Planet of Lana II hadir sebagai sekuel yang sangat dinanti dari seri puzzle-platformer yang sebelumnya berhasil memikat hati banyak pemain dengan visual artistik dan narasi emosional. Dikembangkan oleh Wishfully dan dipublikasikan oleh Thunderful Publishing, game ini resmi dirilis pada 5 Maret 2026 di berbagai platform besar, termasuk Steam untuk PC, PlayStation 5, Xbox Series X/S, Xbox One, serta Nintendo Switch dan Switch 2. Dengan reputasi pendahulunya yang kuat, ekspektasi terhadap sekuel ini tentu tinggi, baik dari sisi cerita, gameplay, maupun kualitas presentasi.
Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Story
Cerita Planet of Lana II dimulai setelah peristiwa dari game pertama, ketika Lana dan Mui berhasil menyelamatkan sebagian besar dunia mereka dari ancaman mekanis misterius. Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Di planet Novo, muncul konflik baru yang lebih kompleks: perpecahan antar suku akibat perebutan sumber daya dan ambisi untuk menguasai teknologi kuno.
Lana, yang kini lebih dewasa, harus menghadapi dilema moral antara melindungi komunitasnya atau mencari jalan damai di tengah kekacauan. Pada awal cerita, Lana kembali ke desanya yang mulai dilanda ketegangan. Pemimpin suku berselisih mengenai cara menghadapi ancaman baru, sementara Mui, tetap setia mendampinginya.
Perjalanan awal membawa mereka ke hutan lebat dan reruntuhan kuno, tempat rahasia tentang kekuatan misterius mulai terungkap. Hingga pertengahan cerita, konflik semakin memanas ketika Lana menemukan bahwa ada pihak yang berusaha memanfaatkan teknologi kuno untuk menguasai seluruh planet.
Apakah Lana dan Mui dapat menyelematkan planet Lana sekali lagi?
Temukan jawabannya dengan memainkan Planet of Lana II: Children of the Leaf!
Gameplay
Gameplay Planet of Lana II tetap berakar pada formula puzzle-platformer 2.5D yang menjadi ciri khas seri ini, namun kali ini Wishfully menghadirkan sejumlah inovasi yang membuat pengalaman bermain terasa lebih kompleks dan berlapis. Puzzle masih menjadi inti utama, tetapi kini variasinya jauh lebih beragam.
Ada puzzle yang berbasis fisik, seperti menggeser balok atau memanfaatkan mekanisme kuno untuk membuka jalur tersembunyi. Ada pula puzzle berbasis lingkungan, di mana Anda harus mengamati pola cahaya, suara, atau interaksi flora dan fauna untuk menemukan solusi.
Puzzle berbasis kolaborasi antara Lana dan Mui menjadi semakin penting, karena keduanya memiliki kemampuan unik yang saling melengkapi. Mui dapat menjangkau area sempit, berinteraksi dengan makhluk kecil, atau memicu mekanisme bioelektrik yang dapat mengaktifkan mesin-mesin, sementara Lana lebih berfokus pada interaksi dengan teknologi kuno dan objek besar. Kombinasi keduanya menuntut Anda untuk berpikir kreatif, bukan hanya sekadar mengikuti pola yang sudah ada.
Selain puzzle, Planet of Lana II juga memperkenalkan sistem combat yang lebih eksplisit dibanding pendahulunya. Combat di sini bukan sekadar tambahan, melainkan bagian integral dari gameplay. Lana kini memiliki akses terbatas pada senjata kuno yang ditemukan di reruntuhan, seperti busur energi atau alat mekanis yang bisa digunakan untuk melumpuhkan musuh.
Combat tidak pernah menjadi fokus utama, tetapi dirancang untuk melengkapi puzzle dan eksplorasi. Pertarungan biasanya terjadi dalam skala kecil, melawan makhluk organik yang agresif atau drone mekanis yang masih tersisa dari ancaman lama. Sistem combat menekankan strategi dan timing, bukan aksi cepat. Anda harus memanfaatkan lingkungan, seperti bersembunyi di balik bayangan, memancing musuh ke jebakan, atau menggunakan Mui untuk mengalihkan perhatian. Dengan demikian, combat terasa sebagai bagian dari puzzle itu sendiri, bukan sekadar pertempuran biasa.
Eksplorasi dunia Novo juga lebih luas dibanding game pertama. Area semi-open memungkinkan pemain memilih jalur berbeda untuk mencapai tujuan, dengan sistem backtracking yang membuka peluang menemukan rahasia baru. Ada segmen di mana Anda harus menyeimbangkan antara stealth dan combat, memilih apakah akan menghindari musuh sepenuhnya atau menghadapi mereka dengan strategi tertentu. Stealth mechanics diperkuat dengan sistem cahaya dan bayangan yang realistis, sehingga pemain harus memperhatikan posisi matahari atau sumber cahaya buatan untuk tetap tersembunyi.
Unsur teknis lain yang menarik adalah sistem “bond” antara Lana dan Mui. Hubungan emosional mereka kini memiliki dampak langsung pada gameplay. Jika pemain sering mengambil keputusan yang memperkuat kepercayaan antara keduanya, Mui akan lebih responsif dan berani mengambil risiko dalam puzzle. Sebaliknya, jika hubungan mereka renggang akibat pilihan tertentu, Mui bisa menjadi lebih ragu atau bahkan gagal membantu dalam situasi kritis.
Secara keseluruhan, gameplay Planet of Lana II berhasil menghadirkan keseimbangan antara puzzle yang variatif, combat yang strategis, eksplorasi yang luas, dan interaksi emosional yang mendalam. Semua elemen ini saling terhubung, menciptakan pengalaman bermain yang tidak hanya menantang secara teknis, tetapi juga menyentuh secara emosional.
Planet of Lana II memiliki sejumlah kelebihan yang patut diapresiasi. Narasi emosional dengan konflik moral yang kompleks membuat cerita terasa relevan dan menyentuh. Visual hand-drawn yang memukau konsisten menghadirkan atmosfer unik di setiap area.
Gameplay puzzle-platformer lebih variatif dan inovatif, sementara soundtrack orkestra mendalam memperkuat nuansa emosional. Namun, game ini juga memiliki beberapa kekurangan. Tempo cerita cenderung lambat di awal, yang bisa membuat sebagian pemain merasa kurang terlibat. Beberapa puzzle terasa repetitif bila dimainkan berulang, dan eksplorasi semi-open terkadang membingungkan bagi pemain baru. Meski begitu, kekurangan ini tidak sampai mengurangi kualitas keseluruhan pengalaman.
Presentation
Visual
Dari sisi visual, Wishfully kembali menonjolkan gaya artistik hand-drawn yang menjadi ciri khas seri ini. Setiap latar belakang digambar dengan detail sinematik, menghadirkan nuansa atmosferik yang kuat. Lingkungan hutan tropis, reruntuhan kuno, dan lanskap planet Novo tampil dengan palet warna unik yang menekankan mood cerita.
Animasi karakter terasa halus, dengan ekspresi wajah yang mampu menyampaikan emosi tanpa dialog panjang. Transisi antara gameplay dan cutscene dibuat seamless, memperkuat kesan film interaktif. Visual Planet of Lana II bukan sekadar estetika, melainkan bagian integral dari storytelling yang membuat pemain larut dalam dunia yang dibangun.

Audio
Audio juga menjadi elemen penting yang memperkuat atmosfer sinematik game ini. Musik digarap oleh Takeshi Furukawa, yang sebelumnya sukses menciptakan atmosfer emosional di game pertama. Soundtrack orkestra bercampur dengan instrumen tradisional, menciptakan nuansa epik sekaligus intim.
Efek suara seperti angin di hutan, langkah kaki di bebatuan, hingga bisikan teknologi kuno menambah imersi. Voice acting tetap minimalis, namun ekspresi suara karakter memberi kedalaman emosional yang signifikan. Semua aspek audio ini bekerja harmonis dengan visual, menghasilkan pengalaman yang benar-benar sinematik.

Value
Dari sisi value, harga rilis Planet of Lana II di Steam diperkirakan sekitar USD 29,99 atau setara dengan Rp480.000. Dengan konten yang ditawarkan—narasi penuh emosi, gameplay variatif, visual artistik, dan audio berkualitas tinggi—game ini memberikan value yang solid. Jika dibandingkan dengan game puzzle-platformer lain di kisaran harga yang sama, Planet of Lana II menawarkan pengalaman yang lebih sinematik dan emosional. Meski bukan game dengan konten ratusan jam, kualitas presentasi dan kedalaman cerita membuatnya layak dibeli bagi pencinta narasi interaktif.
Conclusions
Planet of Lana II adalah sekuel yang berhasil memperluas dunia dan konflik dari seri pertamanya. Dengan narasi emosional, gameplay yang matang, visual artistik, dan audio yang memikat, game ini menjadi salah satu rilisan puzzle-platformer paling dinanti tahun 2026. Meski memiliki beberapa kekurangan minor, nilai yang ditawarkan tetap tinggi, menjadikannya pilihan tepat bagi pemain yang mencari pengalaman sinematik penuh makna.
- Narasi emosional yang mendalam dengan konflik moral dan politik yang kompleks.
- Visual hand-drawn artistik yang konsisten menghadirkan atmosfer sinematik di setiap area.
- Gameplay puzzle-platformer variatif dengan kombinasi puzzle fisik, lingkungan, dan kolaborasi karakter.
- Sistem combat strategis yang terintegrasi dengan puzzle dan eksplorasi, bukan sekadar aksi tambahan.
- Soundtrack orkestra karya Takeshi Furukawa yang memperkuat nuansa emosional dan atmosferik.
- Tempo cerita cenderung lambat di awal sehingga bisa terasa kurang engaging bagi sebagian pemain.
- Beberapa puzzle terasa repetitif bila dimainkan berulang, terutama di area tertentu.
- Eksplorasi semi-open dapat membingungkan pemain baru karena jalur yang bercabang.
- Combat meski inovatif, kadang terasa terbatas dan kurang bervariasi dibanding genre action murni.








![[News] PV Ragnarok Origin Classic telah Dirilis, CBT [Hearth Test] Resmi Meluncur](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Ragnarok-Origin-Prize-Pool-115x115.jpg)
![[Review] World War Z X The Walking Dead Collaboration](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/world-war-z-will-welcome-a-crossover-with-the-walking-dead-in-january-cover6944116c2742d-115x115.jpg)
![[Review] The Perfect Pencil](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/The-Perfect-Pencil-Banner-115x115.jpg)
![[Review] Tales of Berseria Remastered](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Tales-of-Berseria-Remastered-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Resident Evil Requiem](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Resident-Evil-Requiem-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Planet of Lana II: Children of the Leaf](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Planet-of-Lana-II-Banner-200x250.jpg)
![[News] PV Ragnarok Origin Classic telah Dirilis, CBT [Hearth Test] Resmi Meluncur](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/Ragnarok-Origin-Prize-Pool-200x250.jpg)
![[Event] Launch Event Resident Evil Requiem Disambut dengan Penuh Antusias](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG-20260228-WA0024-1-200x250.jpg)
![[Review] God of War: Sons of Sparta](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/God-of-War-Sons-of-Sparta-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Calamity Angels: Special Delivery](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Calamity-Angels-Banner-200x250.jpg)
![[Review] I Hate This Place](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/I-Hate-This-Place-Banner-200x250.jpg)
![[Review] The 9th Charnel](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/The-9th-Charnel-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Ys X: Proud Nordics](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Ys-X-Proud-Nordics-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Tales of Berseria Remastered](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Tales-of-Berseria-Remastered-Banner-360x240.jpg)
![[News] Bocoran Gameplay Assassin’s Creed Mirage Mengemuka!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2023/05/Assassins-Creed-Mirage-official-screenshots-1-scaled-1-360x240.jpg)
![[Recap] Nintendo Direct: Partner Showcase – Februari 2026](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Nintendo-Direct-Februari-2026-360x240.jpg)
![[Review] Planet of Lana II: Children of the Leaf](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/02/Planet-of-Lana-II-Banner-360x240.jpg)