Dying Light: The Beast
Conrad Jiwandono
Techland
Techland
18 September 2025
PS5, Xbox Series, PC
First-person Shooter
Dewasa
Blu-ray, Digital
Rp 829.000 (Standard)
Rp 999.000 (Deluxe)
Techland telah mengukuhkan diri sebagai developer game survival horror open world terbaik, dimulai dengan Dead Island pertama beserta spin-off nya, lalu berlanjut dengan membuat Dying Light yang juga memiliki expansion The Following dan sekuel Dying Light 2: Stay Human. Berawal dari ide untuk dijadikan expansion Dying Light 2 namun akhirnya dikembangkan menjadi game sekuel kedua, Dying Light: The Beast kembali menghadirkan protagonis dari seri pertama, Kyle Crane.
Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Story
Setelah ending Dying Light: The Following, Kyle Crane ditangkap oleh perusahaan GRE (Global Relief Effort) yang telah mengirim dia di game pertama dan menjadikan dirinya sebagai bahan eksperimen bioweapon oleh para peneliti yang diketuai oleh The Baron.
Waktu berlalu 13 tahun kemudian, Crane akhirnya dapat melarikan diri dari laboratorium GRE dengan dibantu oleh seseorang misterius bernama Olivia, dan menemukan dirinya di sebuah desa pegunungan bernama Castor Woods yang telah terkena pandemi virus zombie seperti di seri-seri sebelumnya. Dengan penuh amarah dan hasrat untuk membalas dendam kepada The Baron, Crane berusaha mengontrol kekuatan barunya yang membuat dirinya menjadi setengah manusia dan setengah binatang buas sambil menolong para penduduk setempat yang tersisa.
Tanpa memberikan info lebih lanjut, tapi Dying Light: The Beast dapat dibilang sebagai Dying Light ketiga. Di akhir cerita akan terdapat kejutan yang menyenangkan, khususnya bagi para fans.
Temukan cerita lengkapnya dengan memainkan Dying Light: The Beast!
Gameplay
Yang pertama terlihat berbeda adalah setting Castor Woods yang memiliki tema pedesaan kecil di lereng gunung penuh dengan pepohonan dan semak belukar, terbagi menjadi tujuh daerah utama seperti perumahan, kawasan industri hingga kawasan wisata pegunungan. Berbeda dengan Harran dan Villedor sebelumnya yang memiliki banyak bangunan tinggi, kali ini kalian akan lebih sering melakukan parkour melompati genteng-genteng perumahan.
Menggunakan Chrome Engine versi terbaru, Kyle Crane memiliki gerakan parkour yang sangat lincah di Dying Light: The Beast, namun saking lincahnya terasa responnya terlalu sensitif, seperti memanjat lemari atau berpindah dari satu platform ke platform lain secara otomatis, padahal tidak bermaksud melakukan aksi tersebut. Namun terkadang juga sering terjadi kalian sudah menginput tombol agar Kyle melompat atau berpindah platform namun tidak responsif.
Dengan ukuran map yang lebih kecil dibandingkan kedua game sebelumnya, kalian tidak dapat melakukan fast travel saat menjalajahi Castor Woods. Untuk mencapai titik tujuan kalian harus berlari melewati lautan para zombie yang sangat gampang menangkap kalian, dimana menurut saya ini cukup mengganggu. Pilihan lainnya adalah dengan menemukan mobil truk 4×4 yang diletakkan di lokasi-lokasi tertentu, sehingga dapat kalian hapalkan setelah beberapa jam memainkan gamenya.

Dengan desain perumahan, kalian diminta untuk rajin menjarah rumah-rumah untuk mencari bahan-bahan untuk keperluan senjata, item-item healing, mendapat informasi lebih lanjut mengenai plot game, hingga mengaktifkan side quest. Di kawasan kota terdapat beberapa rumah yang dinamakan Dark Zone, berisi gear atau item berharga lainnya, dan juga bahan-bahan standar yang dalam beberapa waktu akan respawn kembali.
Beberapa fitur lama kembali hadir seperti lockpick, senter dengan lampu ultraviolet, weapon dengan sistem daya tahan sehingga dapat hancur setelah digunakan berkali-kali, dan tentunya siklus siang/malam dimana pada saat malam tiba muncul para musuh spesial bernama Volatile yang sangat lincah dan agresif, dimana jika kalian terlihat oleh mereka akan dikejar dan diserang terus menerus hingga akhinrya kalian mencapai tempat aman untuk berlindung, atau mati karena tidak dapat lepas dari kejaran mereka beserta para zombie lainnya.
Sama seperti seri-seri sebelumnya, kalian dapat memilih untuk melewati waktu malam hari dengan tidur di safe zone yang harus kalian aktifkan terdahulu, tersebar cukup banyak di Castor Woods dan dapat kalian periksa satu per satu dengan membuka peta. Kalian akan mengalami beberapa kondisi di malam hari saat menjalankan misi utama dan harus menghindari para volatile, dimana menurut saya kurang banyak porsinya sehingga tidak terlalu menegangkan.

Dying Light: The Beast memiliki banyak jenis senjata, dari senjata tumpul seperti tongkat baseball dan palu, senjata tajam seperti kapak dan pedang, hingga senjata jarak jauh seperti bow dan crossbow. Tiap weapon memiliki level sesuai dengan level Kyle saat mendapatkannya. Beberapa senjata melee memiliki pilihan untuk di upgrade dan dipasangkan mod, berguna untuk memperpanjang masa daya tahan senjata tersebut jika ingin kalian gunakan dalam waktu lama. Dan untuk pertama kalinya di game ini kalian dapat menggunakan Flamethrower sebagai senjata, dimana memiliki kepuasan tersendiri membakar para zombie yang hendak mengerumuni kalian.
Kekuatan baru Kyle yaitu Beast Mode, memiliki fitur seperti ultimate move dimana dibawah bar HP akan terdapat bar berwarna merah. Bar ini akan terisi saat kalian menyerang musuh menggunakan senjata melee, dan juga saat terkena serangan dari para musuh. Saat bar merah tersebut penuh maka Kyle akan memasuki Beast Mode dimana memiliki serangan yang sangat kuat untuk beberapa saat. Hal ini sangat berguna saat sedang melawan musuh zombie yang kuat, atau para zombie unik bernama Chimera, yang merupakan hasil eksperimen bioweapon dari DNA milik Kyle.
Seiring alur cerita kalian diminta untuk mengalahkan tiap Chimera untuk memperkuat kemampuan Beast Mode, seperti dapat menggunakannya sesuai keinginanmu, atau melempar objek besar ke arah musuh, hingga berteriak kencang agar para musuh di sekitar menjadi sempoyongan untuk beberapa saat. Sebelum game berakhir kalian akan membuka semua keahlian Beast Mode tersebut, membuat tiap pertarungan menjadi lebih nyaman di sisi kalian. Satu tips berguna adalah saat mengaktifkan Beast Mode kalian juga mengisi ulang HP milik Kyle, sehingga trik ini dapat kalian gunakan saat hendak memasuki Dark Zone atau menjarah truk convoy milik tentara dimana rata-rata dijaga oleh para pasukan zombie yang cukup banyak.
Dengan kisah utama yang cukup linear bertemakan balas dendam, Dying Light: The Beast memiliki beragam side quest yang sangat menarik dikerjakan, karena memperlihatkan sisi kemanusiaan Kyle yang rela membantu para penduduk Castor Woods dari berbagai macam masalah. Jika kalian ingin bener-benar mendapatkan pengalaman bermain secara menyeluruh maka setiap kalian mendapat side quest lebih baik langsung diselesaikan. Dan tentunya tiap side quest memberikan hadiah berharga dan EXP yang cukup besar agar kalian dengan cepat mencapai level maksimum.

Yang agak menyebalkan saat menjalankan side quest adalah beberapa meminta kalian untuk kembali ke NPC pemberi side quest untuk menyelesaikannya, dimana saat kalian mencapai NPC tersebut hanya memberikan beberapa kalimat penutup yang singkat. Dengan tidak adanya fast travel, maka perjalanan kalian cukup repetitif dan menyebalkan, khususnya jika waktu malam hari telah tiba.
Dalam pengalaman bermain saya menemukan beberapa bug-bug minor seperti musuh yang tersangkut dalam objek atau dapat menembus tembok. Dan juga tampilan HUD item selector di pojok bawah kiri layar terkadang menghilang, sehingga kalian harus mengira-ngira sedang memegang senjata apa, memilih item healing yang mana, dan sedang memegang senter atau item tool lainnya. Jika kalian mengalami juga bug ini solusinya adalah tinggal restart ulang game, maka akan muncul kembali HUD item selector tersebut.
Selain para zombie dapat dengan mudah menangkap kita seperti sudah saya bahas di atas, untuk versi konsol tidak ada opsi untuk mengubah tombol-tombol. Seringkali saya salah menekan tombol X untuk melompat seperti umumnya game-game action lainnya, namun tombol lompat di game ini terletak di tombol R1. Untuk versi PC terdapat opsi untuk mengubah tombol-tombol, semoga kedepan akan terdapat patch untuk menambah opsi tersebut untuk konsol.

Presentation
Visual
Menurut saya mengapa tidak ada nya fitur fast travel di Dying Light: The Beast adalah karena para pemain diminta untuk menjelajahi Castor Woods yang terlihat sangat indah, seperti desa di pegunungan Alpen di Swiss. Tiap daerah memiliki ciri khas tersendiri sehingga dengan mudah mengenali sedang dimana lokasi kalian sedang berada. Animasi dan visual serangan tiap senjata terhadap musuh juga sangat beragam mengikuti jenis senjata, sehingga kalian ingin mencoba berganti-ganti senjata untuk melihat efek serangannya.
Para karakter dan NPC memiliki desain muka, raut wajah dan gerakan tubuh yang cukup realistis, sehingga kalian akan merasa sedang berbicara dengan orang sungguhan. Dengan ini ditambah narasi kisah utama dan side quest yang cukup baik membuat kalian bersemangat untuk menjalankannya, karena setiap NPC memiliki desain yang berbeda-beda.
Audio
Melengkapi desain para karakter dan NPC yang cukup detil, suara mereka juga terdengar natural dan pas dengan gerakan bibir mereka, seperti sedang menonton film live action. Roger Craig Smith, pengisi suara Kyle Crane di Dying Light pertama kembali hadir menumbangkan suaranya, memberikan rasa nostalgia bagi para fans. Selain itu suara pukulan tiap senjata saat sedang menghajar para musuh terdengar sangat memuaskan. Kalian juga dapat mengetahui posisi para musuh hanya dengan mendengar suara atau geraman meraka di sekeliling kalian.

Value
Sama seperti seri sebelumnya, Dying Light: The Beast memiliki fitur multiplayer online cooperative dengan maksimum empat pemain, baik dengan pemain acak atau bersama teman-teman. Kalian dapat mematikan opsi multiplayer ini dalam menu game kapan saja jika ingin menikmati game secara solo. Untuk saat ini tidak ada fitur New Game Plus, namun kalian memiliki tiga pilihan tingkat kesulitan: Story, Survival, dan Brutal. Bagi para veteran Dying Light yang ingin menguji keahlian kalian dapat memilih antara 2 tingkat kesulitan tersebut.
Bagi yang ingin sekedar menikmati alur cerita tanpa tantangan tambahan, memainkan tingkat kesulitan Story akan memakan waktu kurang lebih 30 jam jika kalian fokus kepada kisah utama dan melakukan beberapa side quest untuk mencapai level 15. Jika kalian ingin mengkoleksi semua item collectibles, menemukan semua easter egg atau menambah koleksi trofi Platinum maka akan memerlukan waktu kurang lebih 60 jam.
Conclusions
Techland melanjutkan keseruan dunia survivor horror open world dengan ukuran peta lebih kecil dari seri-seri sebelumnya, namun membuatnya menjadi lebih padat dengan berbagai macam aktifitas seru dan menegangkan. Dengan aksi parkour dan gaya pertarungan Kyle Crane yang sangat lincah dan indah ditambah dengan alur cerita yang cukup menarik, Dying Light: The Beast adalah sekuel game yang wajib dimainkan oleh para fans, atau bagi kalian yang bertarung dengan para zombie di desa pegungunan yang menawan.
+ Sistem parkour dan pertarungan terbaik saat ini
+ Kyle Crane protagonis yang karismatik
+ Castor Woods memberikan lokasi permainan yang indah
+ Side quest dengan alur cerita menarik
+ Desain karakter dan voice yang ciamik
- Awal permainan terasa lambat
- Kisah dan musuh utama kurang greget
- Beast Mode kurang memiliki variasi yang berarti
Techland melanjutkan keseruan dunia survivor horror open world dengan ukuran peta lebih kecil dari seri-seri sebelumnya, namun membuatnya menjadi lebih padat dengan berbagai macam aktifitas seru dan menegangkan. Dengan aksi parkour dan gaya pertarungan Kyle Crane yang sangat lincah dan indah ditambah dengan alur cerita yang cukup menarik, Dying Light: The Beast adalah sekuel game yang wajib dimainkan oleh para fans, atau bagi kalian yang bertarung dengan para zombie di desa pegungunan yang menawan.
![[Review] Love Too Easily 2: Summer Pocha](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/12/Love-Too-Easily-2-Banner-115x115.jpg)
![[Review] Solo Leveling: ARISE OVERDRIVE](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/12/Solo-Levelling-Arise-OVERDRIVE-Banner-115x115.jpg)
![[Review] A.I.L.A.](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/12/AILA-Banner-115x115.jpg)
![[Review] Fighting Force Collection](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Fighting-Force-Collection-Banner-200x250.jpg)
![[News] Square Enix Umumkan Life is Strange: Reunion](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Life-is-Strange-Reunion-Banner-200x250.jpg)
![[Review] DRAGON BALL Z: KAKAROT – DAIMA: Adventure Through The Demon Realm Part 2](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/DBZ-Kakarot-Daima-Part-2-Wallpaper-200x250.jpg)
![[News] Marathon Siap Meluncur 5 Maret 2026](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Marathon-Banner-200x250.jpg)

![[Review] NINJA GAIDEN 4](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/12/Ninja-Gaiden-4-Banner-200x250.jpg)
![[Review] The Legend of Heroes: Trails Beyond The Horizon](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/12/Trails-Beyond-The-Horizon-Banner-200x250.jpg)
![[Review] FAIRY TAIL: DUNGEONS](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Fairy-Tail-Dungeons-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Love Too Easily 2: Summer Pocha](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/12/Love-Too-Easily-2-Banner-200x250.jpg)
![[News] Sony Umumkan HYPERPOP Collection untuk PS5](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Hyperpop-Collection-2026-Banner-200x250.jpg)
![[Review] Fighting Force Collection](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Fighting-Force-Collection-Banner-360x240.jpg)
![[News] Bocoran Gameplay Assassin’s Creed Mirage Mengemuka!](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2023/05/Assassins-Creed-Mirage-official-screenshots-1-scaled-1-360x240.jpg)
![[Review] FAIRY TAIL: DUNGEONS](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2026/01/Fairy-Tail-Dungeons-Banner-360x240.jpg)
![[Review] Love Too Easily 2: Summer Pocha](https://www.play-verse.com/wp-content/uploads/2025/12/Love-Too-Easily-2-Banner-360x240.jpg)